Salam, semoga bermanfaat. By Udhin Prasetya

Jumat, 04 November 2011

Perempuan dalam Pandangan Muhyiddin Ibnu Arabi


Irfan Islam adalah salah satu kearifan yang bersumber dari teks agama Islam dimana para ahlinya  memiliki kegelisahan dalam hal pemahaman kedalaman batin syariat. Berkaitan dengan hal ini, Muhiddyn Ibnu Arabi berhasil mengantarkan perjalanan tertinggi Irfan sebagai sesuatu yang terpuji. Beliau telah berusaha keras memperkenalkan ketinggian pandangan irfan dalam persaingan dengan bidang ilmu lainnya berkaitan dengan akhlak dan kemuliaan yang digagas ahli adab dan akhlak,  tak ketinggalan pula tema ontology. Beliau juga mampu memberikan penjelasan penuh cinta kepada mereka yang terpesona kebenaran Ilahi. Ibnu Arabi menjadikan irfan Islam sebagai sesuatu yang tidak tergantikan sesudah masanya sekaligus membuat sejumlah Filsuf, ahli Kalam serta ahli Fiqih menyatukan diri kepada irfan.
Makalah ini mengkaji pandangan Ibnu Arabi terhadap perempuan. Mengingat beragamnya pernyataan beliau yang termaktub dalam beberapa tempat yang berbeda, saya akan mengupayakan klasifikasi yang layak dan runtut. Kajian “Perempuan dalam pandangan Ibnu Arabi” akan dimulai dengan riwayat dari Nabi Saw serta penjelasan kedudukan Sang Nabi Saw menurut Ibnu Arabi. Selanjutnya pernyataan Ibnu Arabi tentang perempuan akan dikaji dalam 6 bahasan. Bagian akhir dari makalah ini akan mengetengahkan kesimpulan umum dari seluruh pembahasan.

Kedudukan Nabi Muhammad Saw
Ibnu Arabi seorang arif pada abad ke-7 H diyakini memiliki posisi tertinggi diantara ahli irfan Islam. Untuk menyampaikan pandangannya tentang perempuan, Ibnu Arabi melakukan kajian tentang pengenalan eksistensi perempuan dengan argumen ayat-ayat Ilahi dan hadis-hadis suci. Pada salah satu dari karya terakhirnya (Fusus al-Hikam), beliau menjelaskan tentang para Nabi Allah seperti Adam, Syits, Ya’kub, Nuh, Idris, Hud, Yunus dan seterusnya (alaihimussalam) dan berusaha menjelaskan tentang hikmat Ilahi yang tersembunyi. Bagian terakhir buku ini dikhususkan pada Nabi Muhammad Saw. Kemudian dengan mengutip sebuah riwayat dari Rasulullah Saw Ibnu Arabi menguraikan pandangannya tentang keberadaan perempuan. Perlu diingat bahwa Fusus al-Hikam adalah salah satu karya terpenting dari Ibnu Arabi, dimana bagian akhir serta terpenting dari beberapa bab yang beraneka ragam adalah fash Nabi Muhammad Saw. Pengkhususan bab tersebut menunjukkan pengutamaan pembahasan hakekat perempuan bagi Ibnu Arabi.
Untuk mengenal pandangan Ibnu Arabi secara khusus tentang hakekat keberadaan perempuan, mengetahui pandangannya secara umum tentang keberadaan Nabi Saw merupakan hal yang penting. Saya akan mengetengahkannya pada bagian ini.
Ibnu Arabi memulai fash khusus Muhammad Saw dengan hikmat yang tersembunyi pada keberadaan Sang Nabi Saw dari sisi keunikan khusus yang tiada tara. Sebab dari ketunggalan tersebut adalah bahwa Nabi Saw satu-satunya manusia yang sampai pada  kedudukan insan tertinggi. Allah Swt pada beberapa ayat permulaan dari surah an-Najm menjelaskan kedudukan Nabi Saw secara detail. Terjemahannya: “Demi bintang ketika terbenam. (1) Selamanya temanmu (Muhammad Saw) secara sengaja tidak akan tersesat dari jalan yang lurus, tidak pula keliru. (2) dan selamanya tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. (3) Ucapannya itu tidak lain hanyalah yang diwahyukan kepadanya. (4) serangkaian rahasia yang diajarkan malaikat Jibril yang sangat kuat kepadanya, (5) seorang yang dikarenakan kesempurnaan akalnya telah sampai pada kedudukan seperti ini, (6) serta berada pada tempat yang tertinggi, (7) dimana ketika berada pada tempat yang tertinggi, dia mendekat dan semakin mendekat kepada Allah. (8) Rasul Saw menapak demikian tinggi hingga jaraknya lebih dekat dari dua busur panah, (9) pada waktu itulah Allah Swt mewahyukan kepada hamba-Nya (10) Hati Nabi Saw benar pada apa yang telah dilihatnya “(11).
Kedudukan tersebut dalam irfan Ibnu Arabi disebut sebagai kedudukan “wilayah”. Sebuah tempat terdekat dengan kedudukan zat Allah. Kedudukan paling tinggi ini dimiliki oleh Nabi terakhir Saw dan pada posisi selanjutnya dimiliki oleh Ahlul Bait Nabi, dan secara khusus diberikan kepada Amirul Mukminin Ali As.
Menjadi catatan penting bahwa dalam irfan tidak seorangpun yang dapat sampai kepada zat Allah Swt. Alasannya adalah karena Tuhan tidak terbatas, sedangkan seluruh makhluk memiliki batasan, Maka sesuatu yang terbatas tidak akan bisa mencapai pengenalan pada sesuatu yang tak terbatas. Karena itu, Ibnu Arabi menyatakan bahwa Khatamul Anbiya Saw memiliki kedudukan insan tertinggi dan mencapai kedudukan terdekat dengan Allah Swt. Dimana kedudukan yang lebih tinggi dari itu tidak akan pernah bisa diraih oleh wujud lainnya.
Pembahasan esensi kedudukan wilayah yang dimaksud Ibnu Arabi dan irfan teoritis secara menyeluruh selayaknya dikaji lebih lengkap. Pada kesempatan ini kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukannya. Akan tetapi secara singkat bahasan ini layak untuk disampaikan sebagai berikut.
Kedudukan wilayah adalah tahapan dimana insan menjadi manifestasi sifat Ilahi pada keberadaan dirinya. Semakin banyak seseorang mengamalkan sifat Ilahi dan dalam praktek yang lebih baik, dia akan lebih dekat kepada Allah Swt. Individu yang demikian adalah orang yang memantulkan gambaran sempurna dari Ilahi pada dirinya. Ketika menjadi cermin dan gambaran Ilahi berperan penuh dalam dirinya.
Penyatuan dengan Asma Ilahi disebutkan dalam sebuah riwayat dari Rasulullah Saw sebagai berikut: تخلقوا با خلاق الله  makna akhlak Allah adalah sifat-Nya. Karenanya riwayat tersebut menganjurkan untuk bersifatlah seperti sifat-sifat Allah Swt dan menjalankannya dalam kehidupan pribadi. Individu yang sampai pada kedudukan wilayah disebut sebagai Wali Allah, merupakan pusat lingkaran alam dan cerminan sempurna dari Ilahi. Manifestasi sifat Ilahi pada insan dapat dicapai dengan bantuan tuntunan perjalanan irfan. Dimana aturan perjaalanan ini ditentukan oleh agama. Seorang arif yang berpegang teguh pada ketentuan syariat, tahapan demi tahapan melangkah secara sempurna dibawah tuntunan seorang guru akan mencapai fase penyaksian (syuhud). Ketika pantulan cahaya Ilahi dalam hati insan dan dalam level puncaknya dia menjadi perwujudan Allah. Pada kondisi ini sang arif memandang segala sesuatu sebagai pantulan wujud Tuhan. Seorang arif Persia bernama Baba Thahir Hamadani menggambarkan:
Ketika aku memandang laut, di laut kulihat Engkau
Ketika aku memandang sahara, di sahara kulihat Engkau
Kemanapun aku memandang...
Gunung, bukit dan alam
Kudapati semuanya menujukkan wujud-Mu
Dalam pandangan irfan Islam, Rasulullah Saw menjadi tempat manifestasi paling sempurna dari nama dan sifat Allah. Sebuah nama yang mewakili keseluruhan dan disebut sebagai Ism A’zam Ilahi. Pada nama “Allah” terkandung seluruh sifat dan nama-nama Ilahi lainnya (seperti: Rahmat, Hayat, Qudrat, ‘Ilm, Iradah, ...). Tempat pengejawantahan nama Allah bagi Rasulullah Saw artinya adalah beliau telah mencapai penyatuan dengan nama Ilahi (bukan dengan zat Tuhan). Selanjutnya hakekat dari hal tersebut dipraktekkan dalam diri Beliau Saw. Dapat disimpulkan bahwa Rasulullah Saw sebagai tempat manifestasi paling sempurna dari nama Allah, merupakan cermin yang paling sempurna dalam penggambaran Tuhan. Berkaitan dengan ini, Ibnu Arabi menyatakan : “فكان محمد   دليل على ربه ادل,    عليه السلام :bahwa Nabi Saw adalah petunjuk yang paling jelas dan sempurna bagi Tuhannya”.
Hakekat Keberadaan Perempuan
Setelah menjelaskan kedudukan dan hakekat Rasul Saw dalam pandangan Ibnu Arabi sebagai bahasan pendahuluan, saya akan menyampaikan pandangannya tentang hakekat keberadaan perempuan.
Ibnu Arabi pada fash Muhammad Saw dari buku Fusush al-Hikam ketika menjelaskan rahasia keberadaan Nabi Saw sebagaimana telah saya paparkan secara singkat, juga membahas kedudukan perempuan. Beliau menyajikan sebuah hadis dari Rasul Saw yang tercatat sebagai riwayat paling penting baik dari kalangan Ahli Sunnah dan Syiah: “حبب الى من دنياكم ثلاث النسا  الطيب و جعلت قره عينى فى الصلاه و “ bermakna bahwa Allah Swt menjadikan 3 hal yang aku sukai diantara nikmat dunia, pertama perempuan, keduanya wewangian dan ketiga adalah shalat yang padanya terdapat cahaya mataku.
Ibnu Arabi dalam penjelasan riwayat ini mengungkapkan sebagai berikut: “Dalam Islam setiap Nabi memiliki gelar khusus: Isa As disebut Ruhullah, Musa As sebagai Kalamullah, Ismail As dikenal sebagai Dzabihillah dan Nabi Terakhir Muhammad Saw digelari sebagai Habiballah, bermakna orang yang dicintai Allah Swt. Telah disebutkan bahwa Nabi Saw memiliki seluruh sifat Tuhan, tentunya sifat cinta Ilahi juga terpancar pada dirinya. Bahkan telah mengalami penyatuan dengan sifat tersebut. Berangkat dari hal ini, maka sama halnya ketika Tuhan sebagai sesuatu yang disukai dan dicintai, Beliau Saw juga mencintai dan menyukai perempuan. Artinya adalah Allah Swt menyukai Nabi Muhammad Saw dan Beliau Saw menyukai perempuan. Berdasar runtutan ini, harus dinyatakan bahwa perempuan adalah sesuatu yang disukai Allah.
Setelah menukil riwayat dari Rasul Saw, Ibnu Arabi menyatakan: “ Jelaslah bahwa Nabi Saw sebagai manusia yang paling sempurna dan memiliki derajat tertinggi dari wilayah, tidak mencintai perempuan berdasar kesenangan nafsu dan kebendaan. Akan tetapi Beliau Saw selalu membangun hubungan dengan Allah dan selamanya tidak pernah lalai dari menyaksikan Allah Swt. Meskipun Beliau Saw telah menjadi cerminan Allah yang terindah dan paling sempurna di alam. Tetapi Beliau Saw ingin menyaksikan Allah pada cermin lain (selain dirinya). Sedangkan perempuan merupakan cermin yang paling suci dimana Rasul Saw bisa menemukan perwujudan gambaran keagungan dan keindahan Allah padanya. Maka jika Nabi Muhammad Saw mencintai perempuan, kecintaan itu dikarenakan perempuan adalah bayangan dan cerminan Tuhan”.
Ibnu Arabi melantunkan syair sebagai berikut:
فما ثم محبوب سواه و انما                سليمى و ليلى و الزيانب للستر
Di alam tak ada yang dicintai selain Allah,
dan mencintai perempuan adalah tabir
yang dibaliknya terkandung kecintaan terhadap Allah
(Maksud dari bait tersebut adalah mencintai perempuan merupakan cinta yang didalamnya tersembunyi cinta kepada Allah-penulis).
Dari pembahasan di atas, dapat dinyatakan bagian pertama pandangan Ibnu Arabi tentang perempuan menunjukkan bahwa di sisi Rasul Saw, perempuan merupakan cerminan terbaik bagi manifestasi Tuhan. Pernyataan ini memberi penjelasan bahwa pada pandangan Nabi Saw dan juga Ibnu Arabi perempuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan tidak lebih rendah dari insan lainnya.
Pandangan Ibnu Arabi selanjutnya tentang perempuan yang terdapat dalam “Futuhat Makiyah” tertulis sebagai berikut: “Perempuan bukan hanya tidak lebih rendah dari laki-laki, bahkan perempuan dapat mencapai setiap tahapan dari kesempurnaan yang mungkin diraih oleh laki-laki”. Untuk menguatkan pernyataannya, Ibnu Arabi mempergunakan ayat 35 surah al-Ahzab yang menyamakan kesempurnaan laki-laki dan perempuan sebagai berikut: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang takut kepada Allah, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.
Jelaslah pada ayat ini setiap kebaikan dan kemuliaan yang disampaikan berlaku baik bagi laki-laki dan perempuan. Berdasar hal ini harus dinyatakan menurut Islam setiap derajat kesempurnaan dapat dicapai oleh laki-laki dan perempuan. Tentunya perempuan juga bisa meraih kedudukan wilayah yang merupakan puncak tertinggi dari kesempurnaan manusia. Lebih lanjut Ibnu Arabi pada Futuhat Makiyah ketika menjelaskan ketinggian dan kesempurnan dalam pandangan irfan menulis sebagai berikut: “هذه كلها احوال يشترك فيها النساء و الرجال و يشتركان فى  جميع المراتب حتى القطبيه ; dalam meraih kesempurnaan ini terdapat kesamaan antara laki-laki dan perempuan, keduanya tidak memiliki perbedaan dalam pencapaian seluruh kedudukan spiritual bahkan pada posisi wilayah”.
Menjadi catatan penting bahwa qutub dan wilayah pada manusia selain maksum tentunya lebih rendah dari para maksum. Selain itu, jika seorang yang tidak maksum bisa mencapai tahapan pengenalan penyaksian Tuhan dan wilayah, tentunya dengan bantuan para maksum.
Pada bagian ketiga pandangannya tentang perempuan, Ibnu Arabi pada isyarat ayat-ayat seperti: عليهن درجهللرجال  ; laki-laki memiliki keutamaan atas perempuan dan atau ayat: الرجل قوامون على النساء ; berdasar Kalam Ilahi mengakui keutamaan laki-laki atas perempuan. Tetapi pada tafsirannya atas keutamaan tersebut beliau mengajukan masalah penting dan menarik. Menurutnya ayat-ayat yang mengisyaratkan tentang keutamaan laki-laki harus ditempatkan berdampingan dengan ayat-ayat seperti ayat 35 surah al-Ahzab dan riwayat seperti: “....حبب الى من دنياكم ثلاث”. Untuk kemudian kesimpulan pandangan al-Quran dan Islam tentang perempuan bisa dilakukan. Muhiddyn dengan memperhatikan dua kelompok ayat dan riwayat tersebut, mengutarakan keutamaan laki-laki atas perempuan terbatas pada 2 hal.
Pertama, keutamaan laki-laki atas perempuan adalah karena laki-laki diutus sebagai nabi sedangkan perempuan tidak mencapai derajat risalah. Meskipun demikian Ibnu Arabi tidak menganggapnya sebagai hal yang berpengaruh. Karena ruh dan hal yang mendasari tempat kenabian dan risalah adalah kedudukan wilayah dan qutubiyah seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dimana perempuan dapat mencapai kedudukan tersebut.
Perlu diingat bahwa dalam irfan teoritis khususnya pandangan Ibnu Arabi dinyatakan demikian: “فى الحقيقه الولايه هى باطن النبوه “; pada hakekatnya ruh dan dasar kenabian adalah kedudukan wilayah. Maka kenabian merupakan kedudukan artifisial, sedangkan inti dan dasarnya adalah wilayah. Wilayah, sebagaimana yang telah disebutkan bermakna manifestasi nama-nama Ilahi pada hati sang arif. Sedangkan kemungkinan mencapai penyatuan insan dengan nama dan sifat Allah dimiliki secara sama oleh laki-laki dan perempuan.
Kedua, keutamaan laki-laki atas perempuan menurut Ibnu Arabi dikarenakan riwayat yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari keberadaan laki-laki: “"ان الله خلق حوا من ضلع ادم artinya Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam as. Riwayat ini dengan keberadaannya yang kontroversial dan jika dianggap sahih, dalam pandangan Ibnu Arabi tidak menyebabkan keutamaan yang penting. Karena keutamaan ini tidak bisa dinyatakan sebagai keterbatasan perempuan dari derajat kesempurnaan. Beliau menjelaskan lebih lanjut bentuk penciptaan yang telah disebutkan khusus pada Sayyidah Hawa. Sedangkan perempuan lainnya tidak diciptakan melalui laki-laki. Jika karena penciptaan Hawa dari Adam as dianggap sebagai sebab terhalangnya perempuan dari beberapa kesempurnaan, kondisi ini menjadi lebih sulit untuk Nabi Adam as. Nabi Adam as tercipta dari tanah, sedangkan Hawa diciptakan dari Adam as. Tentunya penciptaan Adam yang berasal dari tanah tidak bisa menjadi alasan keutamaan tanah bagi keutamaan Adam (Selamanya tanah dan insan tidak dapat dibandingkan dalam pencapaian kesempurnaan). Maka jika Hawa tercipta dari Adam as, bukan alasan bagi perempuan untuk terhalang dari kesempurnaan yang dimiliki laki-laki.
Pada tempat lainnya Ibnu Arabi menyatakan jika riwayat menyebutkan bahwa Hawa diciptakan dari Adam, al-Quran secara gamblang menceritakan penciptaan Nabi Isa as berasal dari Sayyidah Maryam, selanjutnya Nabi Saw juga berasal dari Maryam binti Imran. Al-Quran juga menyebutkan Asiah sebagai perempuan baik dan suci.
Layak diperhatikan bahwa pendapat Ibnu Arabi tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam meraih kesempurnaan hakiki secara utuh sesuai dengan perbedaan tanggung jawab dan kewajiban di dunia. Karena perbedaan dalam hal yang bersifat dunia bersumber dari materi serta fisik laki-laki dan perempuan. Maka harapan yang dibangun dalam pencapaian kesempurnaan seseorang tentunya harus sesuai dengan kewajiban, kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Berdasarkan hal tersebut pendapat Ibnu Arabi menjelaskan pandangan Islam atas persamaan kedudukan spiritual laki-laki dan perempuan serta nilai hakiki keduanya. Selanjutnya pandangan yuridis (fiqih) Islam atas perbedaan kewajiban laki-laki dan perempuan bukan sebuah diskriminasi. Pandangan irfan bahkan meyakini bahwa hanya dengan jalan perbedaan yang bersifat dunia (berdasar perbedaan penciptaan laki-laki dan perempuan secara lahiriah) keduanya dapat meraih kesempurnaan hakiki dan menempati puncaknya.
Bagian ke-4 dari pandangan Ibnu Arabi tentang perempuan dapat dinyatakan sebagai bagian terpenting dari pendapatnya, yang juga merupakan pandangan irfan beliau tentang alam. Yaitu persamaan hakikat laki-laki dan perempuan. Beliau menganggap adanya kesetaraan dalam banyaknya pemanfaatan laki-laki dan perempuan atas kemanusiaan. Ibnu Arabi menyatakan: اعلم ان المرأه باعتبار الحقيقه عين الرجل ; ketahuilah bahwa sesungguhnya perempuan pada hakikatnya seperti laki-laki. Pernyataan ini bermakna kesatuan hakekat laki-laki dan perempuan, tidak satupun dari keduanya memiliki keutamaan dari sisi kemanusiaan. Syair beliau dalam Futuhat Makiyah:
الحكم متحد الواحد عليهما               و هو المعبر عننه بالانسان
و تفرقا عنه بامر عارض               فصل الاناث به من الذكران
Artinya: “terdapat kesamaan antara laki-laki dan perempuan dari sisi kemanusiannya, laki-laki dan perempuan hanya sebuah perbedaan yang bukan berasal dari esensi serta eksistensi”.
Pernyataan Ibnu Arabi secara detail selaras dengan ayat Al-Quran yang berbunyi: وهو الذى انشأكم من نفس واحده (surah al-An’am ayat 98); Dan Dialah Tuhan yang menciptakan seluruh manusia dari satu jiwa dan hakikat. Karena itu menurut Ibnu Arabi perbedaan laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh jumlah kesempurnaan dan sifat-sifat yang diraih dengan usahanya semasa hidup. Dalam hal ini mungkin saja sebagian perempuan lebih baik dari laki-laki atau sebaliknya. Dari sisi hakikat dan kedudukan insan, perempuan tidak lebih rendah dari laki-laki tidak pula laki-laki lebih rendah dari perempuan. Derajat dan kedudukan hakiki setiap orang berhubungan dengan perbuatannya. Ibnu Arabi memahami riwayat penciptaan perempuan (Hawa) dari keberadaan laki-laki (Adam) sebagai penjelasan kesatuan hakikat laki-laki dan perempuan. Beliau menyatakan: “ Maksud dari bentuk penciptaan (penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki) adalah keduanya setara dalam hakikat kemanusiaannya. Perempuan merupakan bagian dari hakikat yang dimiliki laki-laki, hakikat perempuan bukan berasal dari dasar yang berbeda.”
Bagian ke-6 pandangan Ibnu Arabi tentang perempuan terdiri atas bahasan relasi laki-laki dan perempuan. Ibnu Arabi menjelaskan hubungan ini sebagai penyempurna satu terhadap lainnya. Menurutnya setiap laki-laki dan perempuan membutuhkan untuk saling menggapai, perkawinan keduanya digambarkannya sebagai relasi cinta yang terindah. Perbedaan laki-laki dan perempuan dalam penciptaan materinya (yang tidak memasuki ranah kemanusiaannya) bukan hanya tidak menyebabkan kekurangan yang satu dan kelebihan yang lainnya, bahkan penyebab kesempurnaan bagi keduanya. Bahwa yang satu saling membutuhkan lainnya dan tanpa keberadaan lainnya tidak akan mengalami perkembangan maksimal. Perkawinan dan penyatuan laki-laki dan perempuan menurutnya tak lain adalah pantulan dari kehendah Allah. Ibnu Arabi meyakini setiap laki-laki dan perempuan menyukai untuk menyatu dengan lainnya. Jika penyatuan ini terjadi dalam koridor agama dan syariat yang benar, akan beralih pada reproduksi insan baru yang selamat. Hal ini memiliki kesamaan dengan kehendak penciptaan Allah yang pada akhirnya menjadi penyebab penciptaan manusia. Sebagaimana Allah dengan kehendak-Nya menciptakan manusia memiliki kemungkinan kesamaan dengan-Nya dari sisi sifat-sifat Ilahi, laki-laki dan perempuan juga melahirkan insan yang seperti mereka setelah perkawinannya. Maka, proses regenerasi yang terjadi pada laki-laki dan perempuan salah satu dari gambaran perbuatan Ilahi.
Dari sisi lain, Ibnu Arabi menyandarkan cinta antara laki-laki dan perempuan layaknya seperti cintanya insan terhadap Penciptanya dan hanyut di dalamnya. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa Ibnu Arabi mengaplikasikan sistem semesta dalam pandangan irfan pada relasi antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan proses regenerasi dianggapnya sebagai gambaran kehendak Ilahi dan cinta antara laki-laki dan perempuan (dalam koridor hukum agama) sebagai perwujudan peniadaan diri di hadapan Allah. Beliau juga meyakini bahwa perkawinan yang merupakan puncak kenikmatan yang bersifat dunia menggambarkan penyatuan dengan alam ketinggian.
Berdasarkan hal ini, Ibnu Arabi berpandangan bahwa perempuan dan laki-laki dalam keberadaannya saling membutuhkan. Jika dipergunakan dengan benar akan menyebabkan perkembangan dan kesempurnaan satu dengan yang lainnya ke tahapan yang lebih tinggi dari perjalanan serta keberadaannya. Beliau menyatakan:كانت المرأه شفعت بوجودها الرجال فصيرته زوجا ; 
“Perempuan menyempurnakan laki-laki dan demikian sebaliknya”. Ibnu Arabi dalam irfan teoritisnya berpandangan bahwa hakikat kedudukan perempuan merupakan hakikat yang berada di alam yang lebih tinggi dari semesta yang disebutnya sebagai “Hawa alam semesta”. Dimana gerak natural paripurna (nafs rahmani) menjadikan hakikat keberadaan tersebut mengambil bentuk pada setiap pribadi perempuan di alam materi. Demikian pula hakikat laki-laki disebutnya sebagai “Adam alam semesta”. Dengan gerakan akal paripurna yang terdapat di alam dan pribadi Nabi Adam as yang terdapat di alam materi, setiap pribadi laki-laki dijadikan sebagai pantulan serta perwujudan hakikat tersebut. Beliau mengatakan alam penciptaan akan terwujud dengan perkawinan maknawi antara Adam dan Hawa alam semesta (yang memiliki gambaran khusus dalam setiap tingkatan alam penciptaan).
Misalnya Asiah istri Fir’aun (yang tidak tersentuh) mengalami perubahan menjadi salah satu perempuan terbaik dikarenakan pertolongannya dalam menyelamatkan nyawa seorang Nabi Allah. Maka dari itu, jika Nabi Musa as dapat mencapai kenabian dan wilayah, disebabkan perlindungan yang dilakukan Asiah terhadapnya. Tentu saja Asiah telah melakukan usaha dan perjuangan meraih kemuliaan secara akhlak hingga sampai pada derajat sebagai pelindung Nabi Allah. Khadijah telah berganti menjadi salah satu perempuan terbaik karena perlindungannya kepada Rasulullah Saw. Karena itu jika Nabi Saw dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya disebabkan pengorbanan Khadijah. Hal yang penting adalah Khadijah tidak akan sampai pada derajat ini kecuali dengan latihan dan perjuangan yang bersifat akhlak. Demikian juga Maryam binti Imran seorang ahli zuhud suci yang tiada duanya, telah mencapai derajatnya dengan melindungi Wali Allah Isa as. Sayyidah Fatimah sa putri Rasulullah Saw pelindung wilayah terbaik telah mencapai puncak kesempurnaan wanita dengan ibadahnya yang luar biasa dan pertolongan terhadap Wali Allah. Berdasar hal ini, harus dinyatakan bahwa kesempurnaan perempuan dan laki-laki (meskipun pada awal penciptaan tidak terdapat perbedaan diantara keduanya), dalam perkembangan dan penyempurnaannya dapat saling menjadi penolong dan pengantar. Selamanya kesempurnaan yang satu tidak akan pernah menyebabkan ketertinggalan yang lainnya.
Pada bagian ke-6 pandangan Ibnu Arabi tentang perempuan dan hakikat keberadaannya terlihat bentuk pengutamaan laki-laki atas perempuan. Pandangannya dapat dipahami haruslah terlepas dari isu hari ini dan dengan memperhatikan dasar pemikiran serta dalam koridor pembahasan sebelumnya. Dalam Fusus al-Hikam Ibnu Arabi berkata: فشهود الحق فى النساء اعظم بالنسبه الى من يلاحظ جمال الحق فى صور الاكوان دأما و لا يفعل عنه......الشهود و اكمله ; “Penyaksian Tuhan pada wanita merupakan penyaksian tertinggi dan paling sempurna. Tentunya bagi orang yang selalu menyadari ke-Tuhanan pada seluruh wujud alam, selamanya tidak akan pernah lalai”. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, hal ini dipahami dengan memperhatikan dasar ontology Ibnu Arabi. Dalam relasi antara laki-laki dan perempuan yang paling dipenuhi cinta yaitu dalam perkawinan (yang merupakan gambaran dari penyatuan wujud pada alam yang lebih tinggi), dari satu sisi perempuan menerima pengaruh dari laki-laki. Selain itu, perempuan juga menjadi tempat pembentukan wujud insan lainnya. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa perempuan dari sisi lainnya memberi pengaruh di alam dan bertanggung jawab dalam penciptaan bayi yang selama 9 bulan memenuhi kehidupan janin. Maka, perempuan memiliki dua kewajiban di alam; menerima pengaruh dan mempengaruhi. Sementara itu, laki-laki hanya memiliki sisi memberi pengaruh. Selanjutnya dapat dinyatakan pula dibanding laki-laki, perempuan pada wujudnya menunjukkan sifat yang lebih banyak dari Ilahi. Berdasar hal ini, jika seseorang melihat perempuan dari pandangan Ilahiah atau melalui penyaksian akan bermuara pada pemahaman Ilahi yang lebih sempurna. Sebab kecintaan Nabi Saw kepada perempuan juga karena kemungkinan penyaksian Ilahi yang lebih sempurna pada keberadaan mereka.
Beliau mengatakan jika laki-laki mengarungi kedalaman cinta wanita, dia akan menyaksikan Tuhan di sana. Kecintaan terhadap perempuan tidak akan menyebabkan kemunduran dan kelemahan. Namun jika seseorang mendekati wanita hanya untuk hawa nafsunya, dia tidak akan mengalami ruh dorongan alamiah yang merupakan cinta Ilahi. لا يدرى لمن  ,فكان صوره بلا روح
يلتذ و من المتجلى بذلك اللذه; “Afeksi laki-laki dibanding perempuan (jika terlepas dari pertimbangan tentang ke-Tuhanan), layaknya sebuah badan tanpa jiwa. Pada kondisi ini laki-laki tidak mengetahui dengan siapa dia mencapai kenikmatan dan siapa yang mengejawantah dalam lingkup kenikmatan”. Berkaitan dengan ini, menurut Ibnu Arabi dengan kacamata ontological terhadap perempuan dapat dikatakan dari perempuan tercium aroma penciptaan dan keberadaan serta alam semesta. صاحب الكشف يشم روائج وجودهم فيها    لما فى النساء من روائح التكوين ; “Orang yang menggapai pengalaman puncak dan kasyf menghirup semerbak keberadaan buah hati, karena pada perempuan terdapat keharuman wujud yang menggelora seperti ombak di lautan”.

Kesimpulan
Harus diperhatikan bahwa dalam pandangan Ibnu Arabi yang berkaitan dengan pengalaman syuhud (penyaksian) pribadinya disampaikan sebagai pandangan Islam tentang perempuan. Tentunya sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam hal ini beliau menyandarkan pendapatnya pada ayat dan riwayat, mengingat kajian kritisnya terhadap ayat dan riwayat. Memperhatikan pandanganya yang berdasar syuhud dan riwayat sahih yang digunakan, dapat dinyatakan bahwa pemahamannya atas ayat-ayat dan riwayat memiliki nilai kepercayaan. Sedangkan pandangan Ibnu Arabi tentang perempuan yang dapat disebut sebagai pandagan Islam terhadap perempuan berdasarkan hal ini.
Akhirnya dari enam bagian yang telah dipaparkan sehubungan dengan pandangan Ibnu Arabi dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Perempuan dari sisi manifestasi Allah Swt adalah objek cinta Rasulullah Saw dimana Rasul Saw sendiri adalah kecintaan Allah. Maka dapat dikatakan perempuan objek cinta dari pribadi yang dicintai Allah Swt.
2.    Perempuan dan laki-laki dalam hakikat kemanusiaannya setara satu sama lainnya dan tidak ada yang lebih rendah atau lebih utama dari sisi kemanusiaan.
3.    Perbedaan jenis merupakan hal di luar hakikat kemanusiaan dan tidak menyebabkan keutamaan unsur asli yang satu serta kerendahan yang lainnya. Karena menurut dasar pemikiran irfan dan ontological suatu keberadaan yang tidak setara haruslah berbeda sejak unsur pertamanya. Sedangkan laki-laki dan perempuan pada zatnya berada dalam kesetaraan.
4.    Keutamaan seorang perempuan atas seorang laki-laki atau sebaliknya tidak tergantung pada penciptaan materi dan perbedaan kewajiban yang bersifat dunia. Akan tetapi dipengaruhi kesempurnaan jiwa dan spiritual yang diraih oleh masing-masing di masa pada kehidupannya. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 13 surah al-Hujurat yang berbunyi: “ان اكرمكم عند الله اتقاكم ; Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa”.
5.    Kemungkinan meraih pengetahuan yang bersifat batin dan irfan serta bersentuhan dengan derajat kesempurnaan hakiki tidak akan berbeda dengan adanya perbedaan jenis. Perempuan sama sekali tidak memiliki kekurangan dibandingkan dengan laki-laki dalam pencapaian kesempurnaan spiritual dan pengenalan lainnya. Selanjutnya, derajat kesempurnaan tertinggi yang ditebarkan kepada manusia adalah kedudukan wilayah dimana kedudukan ini dapat diraih perempuan.
6.    Dalam perjalanan meraih kesempurnaan, perempuan dan laki-laki merupakan pelengkap dan penolong bagi lainnya. Berdasarkan perbedaan fisik dan kecenderungan mereka terhadap yang lainnya, keduanya dapat meraih kesempurnaan yang seharusnya dan puncak ketinggian insan. Perempuan dalam naungan pertolongan afektif dan fisik terhadap laki-laki, dan laki-laki dengan mengambil manfaat dari relasi dengan perempuan dapat menapaki jalan kesempurnaan.
7.    Perempuan dari kacamata penciptaan dan keberadaannya dibanding laki-laki merupakan tempat perwujudan yang lebih sempurna bagi Tuhan.
Karena itu dia memiliki kesiapan yang lebih banyak dan lebih baik untuk melewati jalan ketinggian dan kesempurnaan. Berdasar hal ini, dalam Islam ketinggian dan kesempurnaan perempuan tidak ditentukan oleh pelaksanaan banyaknya kewajiban terhadap laki-laki. Dengan semua ini, berkali-kali dalam riwayat dan ayat disebutkan tentang kedekatan yang luar biasa dari perempuan terhadap kesempurnaan spiritual dan ketinggiannya.
Maka harus disebutkan bahwa yang menentukan tinggi dan rendahnya kedudukan perempuan, bukan badan dan penciptaan materi atau aplikasi dari keduanya. Akan tetapi ditentukan oleh kesempurnaan jiwa dan spiritual dimana perempuan dan laki-laki memiliki kesamaan dalam kemampuan meraihnya. Setiap derajat yang mungkin dicapai oleh laki-laki juga dapat dicapai perempuan. Tentunya untuk sampai pada kesempurnaan ini, akan terwujud dalam naungan perbedaan dan pemanfaatan perbedaan materi antara perempuan dan laki-laki, tidak dengan cara lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Loading...
Loading...