Salam, semoga bermanfaat. By Udhin Prasetya

Sabtu, 12 November 2011

Merancang-bangun Model Pergerakan Mahasiswa


Sebagai kaum muda yang terdidik, tentu mahasiswa mempunyai peran dan tanggungjawab besar dalam mengayuh terwujudnya negara yang demokratis. Watak kepoloporan, keberanian, dan sifat kritisnya menjadi modal utama dalam memberikan warna dan karakter sebuah bangsa. Itu sebabnya, tak berlebihan ketika Soekarno meletakkan kaum muda terdidik sebagai lokomotif kemajuan bangsa.
Berbicara tentang peran dan tanggung jawab mahasiswa mengingatkan kita pada insiden 13 tahun silam dimana dengan modal semangat dan militansi gerakannya, mahasiswa mampu menumbangkan rezim orde baru beserta kroni-kroninya yang telah berkuasa selama 32 tahun. Di samping itu, peran mahasiswa pada angkatan 66, 74 dan 98 telah memberikan label The Agent of Social Control. Apalagi perjuangan mereka tidak lain adalah penyalur lidah masyarakat yang tertindas. Kekuatan moral yang terbangun lebih disebabkan karena mahasiswa yang selalu bergerak aktif, seperti turun ke jalan berteriak demi menuntut keadilan dan pembelaan terhadap hak-hak wong cilik. Itulah salah-satu capaian yang telah ditorehkan mahasiswa dalam peta sejarah pergerakan kita.
Namun patut diakui juga bahwa pergerakan mahasiswa dari waktu ke waktu selalu mengalami transformasi pasang surut. Pergerakan mahasiswa mengalami dinamika sosial yang berbeda-beda sesuai dengan konteks dan karakteristik zamannya. Bahkan  hingga saat ini pun dinamika pergerakan mahasiswa masih terus bergulir saling berganti sesuai dengan jiwa zamanya.
Akhir-akhir ini, gerakan mahasiswa tampaknya kian meredup bahkan mengalami krisis. Gerakan mahasiswa seperti kehilangan gregetnya di mana aksi-aksi penentangan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat tidak lagi mampu mengundang simpati mereka. Bahkan, terkadang pergerakan mahasiswa bukan lagi mahasiswa yang berpolitik, tetapi politikus yang memegang kartu mahasiswa karena tanpa disadari hingga kini pergerakan yang dianggap murni dari mahasiswa ternyata terdapat kepentingan lain di belakangnya.
Akibatnya, beberapa stereotype negatif mulai berkembang di masyarakat kita, seperti demo bayaran, mahasiswa cuma bisa demo, urak-urakan di jalanan, dan lain-lain. Belum lagi perilaku negatif yang kian marak dibawa sebagian mahasiswa ke dalam lingkungan kampus. Semua itu turut menanbah daftar kekecewaan masyarakat terhadap citra mahasiswa.
Rancangan Baru
Saatnya kita harus merancang-bangun format baru terkait efektifitas pergerakan mahasiswa. Para aktivis pergerakan perlu mengubah orientasi dengan menegedepankan nuansa gerakan intelektual. Kembalinya Mahasiswa ke ranah intelektual menjadi solusi alternatif untuk berekspresi. Untuk menuju ke arah itu penulis ingin menawarkan 2 (dua) format baru bagi  gerakan mahasiswa.
Pertama, menghidupkan tradisi membaca dan diskusi. Dua hal ini merupakan pintu masuk untuk menyemai gerakan intelektual. Begitu cepat pergeseran berita dan opini publik, memaksa kita untuk senantiasa membaca. Kesibukan bukan alasan tepat untuk tidak membaca. Di samping itu, elemen gerakan mahasiswa harus mengkaji lebih detil mengenai apa, mengapa, akibat dan latar belakang kebijakan pemerintah harus didukung atau ditentang. Dari kajian-kajian dalam bentuk diskusi dengan mengundang para pakar di bidangnya akan mampu melahirkan gagasan-gagasan dan analisa yang cemerlang.
Kedua, menghidupkan tradisi menulis. Tokoh-tokoh penting Indonesia, seperti Cak Nur, Bung Karno, Abdurrahman Wahid, Amin Rais, dan lain-lain, yang notabene mantan tokoh aktivis pemuda dan mahasiswa, lebih banyak melemparkan gagasan atau ide-idenya dalam bentuk tulisan, baik berupa kritik tajam maupun dalam membangun wacana. Jika kita kembali pada pergerakan mahasiswa, maka menyebar opini atau isu lewat tulisan jelas lebih efektif dan efisien. Karena, mewacanakan isu-isu melalui media dapat dibaca oleh kalangan lebih luas.
Itulah tiga model pergerakan yang lebih efektif dan sesuai dengan kultur masyarakat kita saat ini. Tentu dua model itu bukan wacana baru dalam peta pergerakan kita, ia sudah lama dibincang di berbagai media dan ruang-ruang diskusi. Akan tetapi, dalam kondisi mahasiswa yang tengah stagnan serta selalu mengedepankan dimensi pragmatisnya, wacana semacam ini tampaknya menemukan momentumnya kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Loading...
Loading...