Salam, semoga bermanfaat. By Udhin Prasetya

Minggu, 13 November 2011

MANUSIA DAN FILSAFAT PENCIPTAAN [2]


 

c. Kekuasaan dan Ketenaran


Sebagian meletakkan kekuasaan dan ketenaran bagi keabadiannya sebagai ideologi, namun terletak perbedaan antara seorang yang memiliki tujuan khas dan dalam perjalanan menggapai tujuan khusus itu ia mendapatkan kekuasaan dan ketenaran dan seorang yang tujuan utamanya adalah meraih puncak kekuasaan dan ketenaran.

Seorang pelajar yang tujuan mulianya adalah menuntut ilmu, ketika telah menjadi seorang ilmuwan biasanya ia juga memperoleh suatu kedudukan dan menjadi terkenal. Di sini pelajar tersebut tidak menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencapai puncak tujuannya yaitu kedudukan dan ketenaran, namun tujuannya tak lain misalnya melakukan penelitian untuk mendapatkan ilmu dan penemuan baru, bukan kekuasaan. Adalah sangat mungkin seorang individu secara lahiria meletakkan ilmu sebagai tujuannya hingga ia memperoleh sebuah ijazah dan kemudian mencapai suatu kedudukan dan menjadi tenar. Di sini, individu ini nampak menempatkan ilmu itu sebagai tujuan, sementara secara hakiki inti tujuannya adalah mendapatkan kedudukan, kekuasaan, dan ketenaran.

Memang benar bahwa ilmu pada kedua individu di atas ditempatkan sebagai tujuan, tapi pada individu pertama digunakan untuk berkhidmat pada kemanusiaan dan mengikuti tuntutan fitrah sucinya, sementara pada individu kedua hanya untuk memuaskan tujuan rendah dari jiwanya yaitu cinta pada kekuasaan dan ketenaran. Adalah sangat urgen untuk individu kedua ini memahami dan mengetahui bahwa:

Pertama, cinta kekuasaan dan ketenaran adalah sangat tidak layak bagi kedudukan mulia manusia dan juga tidak sesuai dengan hakikat wujudnya;

Kedua, seorang yang telah menjadi terkenal dan berkuasa adalah sangat mungkin, karena terjadi perubahan nilai dan tolok ukur sosial dalam masyarakat, akan terdepak dari kursi kekuasaan dan menjadi terhina;

Ketiga, cinta kekuasaan dan ketenaran merupakan perkara yang sangat nisbi, karena pada setiap tempat dan zaman terdapat orang yang memiliki kekuasaan dan ketenaran yang lebih tinggi dan lebih luas dari kekuasaan dan ketenaran yang dimilikinya.

Kekuasaan dan ketenaran tersebut dari aspek bahwa tidak bisa ditempatkan sebagai ideologi, karena akan menyirnakan sifat rendah hati dan tawadhu serta terjebak dalam kecenderungan materi dan lautan egoisme yang kesemua ini merupakan penghalang proses kesempurnaan manusia. Apabila manusia tidak melepaskan dirinya dari kecenderungan dan cinta kekuasaan ini, maka mustahil ia melangkahkan kakiknya meniti jalan kesempurnaan.


d. Cinta Diri dan Egoisme


Sebagian manusia menjadikan kecintaan pada diri (cinta diri) sebagai tujuan dan ia berusaha segenap kemampuan dan berupaya dengan gigihnya dalam meraih tujuan ini. Mereka mengerahkan segenap kekuatan jiwa dan pikirannya untuk memuaskan apa-apa yang menjadi tuntutan dan kecenderungan kecintaan dirinya.

Keadaan tersebut biasanya ditemukan pada masa remaja, dan keadaan ini dapat melemah dan berlalu dengan cepat seiring dengan penambahan umur sehingga tidak terlalu penting dan berbahaya bagi jiwa. Namun keadaan ini bisa tetap berlanjut hingga pada tingkatan mempengaruhi keseimbangan jiwa manusia dan menjadi suatu penyakit jiwa. Penyakit jiwa ini akan semakin parah dengan ketiadaan sistem pendidikan yang mumpuni dan keadaan sosial yang sangat liberal serta prilaku masyarakat yang non-etis.

Cinta pada diri sendiri berdasarkan realitas di atas tidak bisa menjadi sebuah ideologi, karena menghilangkan keseimbangan jiwa manusia dan menyebabkan manusia tidak bisa berpikir secara benar serta memandang realitas hidup dengan khayalan kosong.


e. Welfarisme[1]


Begitu banyak manusia menjadikan tujuan hidup satu-satunya untuk menggapai kesejahteraan hidup (welfare). Mereka ini berupaya dengan segenap kemampuan untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera dan melupakan bahwa kesejahteraan merupakan alat dan wasilah kehidupan, bukan tujuan hakiki kehidupan manusia.

Namun sangat disayangkan bahwa sebagian aliran pemikiran dan ideologi manusia bahkan menegaskan dan menekankan pencapaian suatu kehidupan sejahtera yang kosong dari kesedihan, kemalangan, dan kemiskinan sebagai suatu tujuan hidup manusia.

Mereka ini lupa dan tidak memperhatikan bahwa apabila semua manusia suatu waktu sampai pada puncak kesejahteraan, tidak ada lagi kefakiran, kemalangan, dan seluruh manusia menjalani hidup di surga dunia ini, maka fitrah manusia masih akan menyoalkan tentang dari mana kita datang? Kenapa kita lahir ke alam ini? Dan kemana kita akan pergi?

Apabila mencapai puncak kesejahteraan dapat dianggap sebagai tujuan hakiki kehidupan dan ideologi manusia, maka manusia-manusia yang telah menggapai puncak kesejahteraan tidak mesti lagi memilih suatu ideologi lain sebagai pandangan hidupnya, sementara realitas yang terjadi tidaklah demikian dan begitu banyak manusia sejahtera menuntut ilmu dan pengetahuan atau mengejar kekuasaan, kedudukan, dan ketenaran.

Lebih dari yang disebutkan di atas, apabila kesejahteraan hidup - yang secara hakiki adalah alat dan perantara - diletakkan sebagai tujuan hakiki kehidupan manusia, maka ketika manusia ini tidak berhasil meraih tujuannya tersebut niscaya ia akan merasakan kemalangan yang sangat dalam, sangat mungkin berujung pada putus asa dan bunuh diri, dan kemudian memandang kehidupan dengan pandangan yng sangat negatif.


f. Hedonisme[2]


Manusia lain menempatkan kesenangan hidup atau hedonis sebagai ideologinya dan berusaha mendapatkan semaksimal mungkin segala kesenangan dalam kehidupannya.

Bentuk pandangan hidup seperti ini tidak lepas dari pengaruh konsep filsafat Epicurian. Sesungguhnya mereka ini bukan hanya tidak meletakkan tujuan mendasar dan hakiki untuk kehidupan mereka, bahkan kehidupan itu sendiri dianggap dan dipandang sebagai permainan dan canda belaka.

Manusia seperti ini dapat dipandang tidak memiliki keseimbangan jiwa dan pikiran, dan tujuan mereka tidak lain adalah berusaha mendapatkan seluruh kesenangan dan memuaskan keinginan-keinginan alami dan kecenderungan-kecenderungan tubuh.

Hedonisme tidak dapat ditempatkan sebagai ideologi, karena manusia akan terpenjara oleh kecenderungan tubuh yang rendah dan jiwa manusia tidak ijinkan untuk melakukan perjalanan menyempurna dan melesak hingga tingkatan ter-tinggi kesempurnaan manusia dan Ilahi. Dan begitu pula, hedonisme ini niscaya meletihkan tubuh manusia dan berujung pada nihilisme.


4. Karakteristik-Karakteristik Ideologi Sempurna


Sebagaimana yang telah diungkapkan tentang defenisi ideologi dan ideologi yang dianut oleh manusia, dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa ideologi adalah suatu tema yang merupakan pokok perhatian manusia, merupakan dasar semua prilaku manusia dan menentukan bentuk pilihan manusia, merupakan tujuan segala usaha dan upaya manusia, dan merupakan penjelas kedudukan manusia di alam eksistensi ini, minimal kehidupannya di alam materi, serta merupakan tolok ukur bagi nilai-nilai dan keutamaan kehidupan.

Di sini perlu diperhatikan poin penting bahwa tolok ukur mengenal ideologi manusia ialah melihat apa yang menjadi titik tekan dan perhatian mendasar dari kehidupannya dan dasar motivasi segala prilaku dan tindakannya. Yakni manusia ini dengan motivasi, dasar, dan tujuan apa ia melakukan perbuatan tersebut, jadi apa saja tujuan dan motivasi segala tindakan dan prilaku manusia tidak lain adalah ideologi dan tujuan hidup manusia. Manusia tidak perlu menyatakan secara lahiriah mengenai ideologi dan tujuan hidup yang dianutnya karena ideologi bukan realitas yang terucap tetapi sebuah realitas yang mendasari seluruh perbuatan, tindakan, dan prilaku manusia. Oleh karena itu, suatu ideologi bisa mengemban masalah-masalah tersebut di atas apabila mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Ideologi tidak hanya harus mempunyai seluruh sifat positif, bahkan mesti jauh dari segala kekurangan dan kelemahan. Apabila kita mengamati setiap ideologi manusia, maka kita akan jumpai beberapa dimensinya yang bermanfaat dan memiliki sisi positif, tetapi aspek-aspek lainnya yang negatif dan mempunyai kekurangan niscaya jauh dari nilai-nilai hakiki. Sebagai contoh, kekayaan yang berfungsi memenuhi kebutuhan-kebutuhan materi manusia merupakan hal yang bermanfaat dan positif, namun dari dimensi bahwa dia menyebabkan terjadinya eksploitasi alam maka mustahil dia ditempatkan sebagai suatu ideologi. Atau cintai diri dan egoisme yang walaupun memuaskan dan berkhidmat pada kebutuhan-kebutuhan ruhani dan jasmani manusia, namun dari aspek bahwa egoisme ini mengerahkan segala potensi manusia untuk berkonsentrasi pada satu dimensi saja yang lantas berujung pada keterasingan manusia dari alam spiritual malakuti dan hilangnya sifat-sifat kemanusiaan, jadi dengan realitas ini egoisme tak bisa dijadikan sebagai suatu ideologi bagi manusia.

2. Ideologi mesti menjelaskan kedudukan manusia di alam eksistensi dan menjawab persoalan-persoalan hakiki manusia, seperti masalah asal-muasal manusia, tujuan keberadaan manusia di alam ini, dan akhir perjalanan hidup manusia pasca kematian. Manusia senantiasa ingin memahami secara hakiki kedudukannya di alam eksistensi, apa yang mesti dilakukan di dunia ini, dan apa tujuan hakiki kehidupan manusia. Dan karena tak satupun ideologi yang ada dapat menjawab secara sempurna persoalan-persoalan manusia tersebut dan hanya filsafat penciptaan yang mampu memberikan solusi riil dan hakiki atas semua persoalan kemanusiaan tersebut, dengan demikian filsafat penciptaan ialah ideologi yang paling sempurna yang bisa dianut manusia.

3. Ideologi harus terkait dengan semua aspek kehidupan manusia dan menentukan bentuk hubungan individu-individu dalam masyarakat dan mengarahkan menusia ke arah pembangunan diri, masyarakat, dan bangsanya. Disamping itu, ideologi dapat memberdayakan potensi-potensi yang berbeda dari setiap individu untuk kepentingan kesempurnaan masyarakat manusia dan menegaskan bahwa setiap individu-individu manusia berhubungan satu sama lain sedemikian sehingga diumpamakan sebagai bagian-bagian dari tubuh yang satu. Ia mengajarkan pada manusia untuk merasakan langsung penderitaan-penderitaan orang lain dan memotivasi manusia menolong dan membantu sesamanya. Tidak diragukan lagi bahwa sifat dan karakteristik seperti ini hanya dimiliki oleh filsafat penciptaan, karena tidak satupun dari ideologi yang ada memiliki pengaruh universal dalam kehidupan manusia. Sebagai contoh, bangsa yang menganut nasionalisme sebagai ideologinya, walaupun memiliki pengaruh bagi yang manusia lainnya, namun aspek-aspek manfaat dari ideologi ini hanya meliputi minoritas manusia yang hidup dan tinggal dalam komunitas masyarakat tersebut.

4. Ideologi harus memiliki dimensi logis, argumentatif, rasionalitas, dan bersifat tetap dan stabil. Dan begitu banyak realitas yang dijadikan manusia sebagai ideologi, seperti kekayaan, kesejahteraan (welfare), suku, bangsa dan lain sebagainya, yang mungkin secara lahiriah bersifat logis, namun apabila hal-hal ini dianalisa dalam koridor hubungan manusia dan masyarakat atau kemashlahatan semua individu manusia maka nampak ketaklogisan dan ketidakstabilan ideologi-ideologi tersebut; karena bagaimana mungkin, dengan asumsi bahwa nasionalisme ditempatkan sebagai ideologi bagi semua manusia dengan keberadaan ideologi-ideologi lain seperti kekayaan atau hedonisme yang juga dianut oleh sebagian manusia, dapat diyakini bahwa tidak akan terjadi benturan di antara individu-individu manusia.

5. Cita-cita dan tujuan ideologi ialah bisa dicapai oleh semua individu manusia. Dengan ungkapan lain, puncak kesempurnaan yang dicanangkan oleh ideologi tersebut bisa diraih secara bertahap oleh setiap individu manusia berdasarkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Begitu banyak ideologi yang dianut oleh manusia mustahil dicapai oleh seluruh manusia, dengan ini menyebabkan manusia yang tidak dapat menggapainya menjadi sangat terpukul dan mengalami gangguan kejiwaan. Misalnya manusia yang menjadikan kekayaan sebagai ideologinya dan menempatkan uang sebagai satu-satunya nilai dan tolok ukur, apabila manusia ini tidak berhasil meraih tujuan dan cita-cita ideologinya, maka pasti dia akan mengalami depresi kejiwaan.

6. Ideologi mesti bersifat abadi dan kekal, karena kalau manusia memilih suatu ideologi yang tidak kekal, maka dapat dipastikan bahwa kehidupan manusia akan mengalami kemunduran dan kehancuran. Sebagai contoh, kalau seseorang menjadikan kekayaan sebagai ideologinya ,maka dengan ketiadaan ideologi itu akan menyebabkan manusia menjadi terpuruk, jiwanya menjadi tidak stabil, dan kehidupannya menjadi sia-sia.


Pandangan-Pandangan tentang Alam Eksistensi


Apakah kita dapat memahami dan mendefenisikan tentang kehidupan ataukah tidak? Apakah keberadaan kita sendiri bisa dijelaskan sedemikian rupa sehingga memiliki nilai yang abadi ataukah tidak? Apakah kehidupan itu sendiri memiliki nilai ataukah tidak? Pertanyaan dan persoalan seperti ini senantiasa menarik perhatian para pemikir. Penyikapan yang optimisme dan pesimisme yang terjadi di sepanjang sejarah manusia atas kehidupan ini merupakan bukti terhadap urgensinya persoalan di atas yang sebagaimana dikatakan oleh Albert K, "Apa bedanya bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya, secara tegas saya katakan bahwa persoalan ini sama sekali tidak mempunyai nilai dan manfaat. Dan kita melihat begitu banyak manusia yang putus asa atas kehidupan karena memandang bahwa hidup ini tidak memiliki nilai. Atau kita menyaksikan individu-individu lain yang karena keterikatannya secara emosional atau rasional dengan agama dan kepercayaan mengorbankan dirinya demi agama suci dan keyakinannya atau menjalani kehidupan ini berdasarkan agama dan keyakinan tersebut. Oleh karena itu, menurut perspektif saya makna dan arti kehidupan merupakan persoalan yang urgen dan hakiki."[3]

Konsep dan pandangan para pemikir tentang alam eksistensi dan kehidupan dapat dibagi secara umum dalam tiga kelompok, antara lain:

1. Kelompok yang mendukung "Optimisme" dan memandang kehidupan ini dengan pikiran yang positif. Mereka ini juga menyaksikan bahwa kehidupan dunia ini memiliki keburukan dan kemalangan, akan tetapi berkeyakinan bahwa kebaikan dan keberuntungan kehidupan dunia ini jauh lebih besar dari penderitaan dan keburukannya. Dengan ungkapan lain, kemenangan berada pada keberuntungan dan kebaikan dunia ini. Penderitaan, kemalangan, dan keburukan merupakan perkara-perkara yang nisbi, cepat berlalu, dan diinginkan atau tidak niscaya akan sirna. Secara umum, makna Optimisme digunakan dalam hal-hal di bawah ini:

a. Optimisme, sebagaimana yang terkandung dalam pandangan-pandangan Leibniz. Ia berkeyakinan bahwa alam eksistensi ini merupakan alam wujud yang terbaik yang dapat tercipta, maka dari itu seluruh apa yang terjadi dan segala fenomena yang muncul di alam eksistensi ini juga merupakan realitas-realitas dan perkara-perkara yang terbaik.[4]

b. Optimisme dan berpikir positif dalam kerangka mekanisme eksistensi bermakna bahwa eksistensi itu sendiri identik dengan kebaikan, dan keburukan sebagai suatu hal yang nisbi atau tiada. Pandangan ini berpijak pada mekanisme eksistensi dan dibangun di atas dalil filosofis yang kuat. Mayoritas filosof Islam menganut pandangan ini.

c. Optimisme dengan makna bahwa zat dan wujud manusia secara esensial adalah baik dan kalau terdapat keburukan dalam diri manusia maka sesungguhnya berasal dari lingkungan sosial, sistem pengajaran, dan metodologi pendidikan.

d. Optimisme dengan arti bahwa manusia beranggapan bahwa segala perkara dan realitas yang terjadi di alam eksistensi ini adalah baik dan bermanfaat. Dengan ungkapan lain, dia berkeyakinan bahwa apabila terjadi banjir atau angin topan dan fenomena alam lainnya maka sebenarnya memiliki hikmah dan mashlahat.

e. Optimisme memiliki pengertian bahwa manusia tetap berkeyakinan terhadap keberadaan keburukan, namun kemenangan senantiasa berakhir pada kebaikan dan mashlahat.

f. Optimisme yang bermakna negatif dimana manusia supaya lepas dari segala tanggung jawab berupaya menjelaskan secara baik seluruh kejadian sosial yang terjadi.

2. Kelompok yang menganut "Pesimisme" dan senantiasa melihat kehidupan ini dengan pikiran yang negatif. Kelompok manusia ini hanya memandang aspek penderitaan dan kemalangan kehidupan dan tidak berharap sama sekali akan hadirnya kebaikan bagi kehidupan. Secara umum, Pesismisme digunakan dalam pengertian-pengertian sebagai berikut:

a. Pesimisme dalan mekanisme alam eksistensi adalah bahwa yang hakiki dan prinsipil dalam alam eksistensi ialah keburukan. Kebaikan merupakan perkara yang bersifat sementara dan akan berlalu, hal-hal yang abadi di alam ini hanyalah keburukan dan penderitaan.

b. Pesimisme yang terkait dengan esensi manusia, yakni wujud manusia secara substansial adalah buruk. Apabila terdapat prilaku dan perbuatan manusia yang baik, maka hal-hal itu hanyalah bersifat permukaan belaka dan dibalik tindakan baik itu tersimpan niat buruk.

c. Pesimisme bermakna bahwa manusia memandang keburukan dan penderitaan bersifat hakiki dan substansial sementara kebaikan itu bersifat aksidental, dan berkeyakinan juga bahwa penderitaan mengalahkan kenikmatan dan keburukan mengungguli kebaikan. Dan berdasarkan pandangan ini, penderitaan dan keburukan adalah hakiki dan kenikmatan dan kebaikan tidak lain adalah ketiadaan penderitaan dan ketiadaan keburukan.

d. Pesimisme dan berpikir negatif berarti bahwa manusia juga mengakui adanya kebaikan dan kesenangan, akan tetapi kemenangan berpihak pada keburukan dan penderitaan.

e. Pesimisme memiliki pengertian bahwa manusia apabila memandang apa saja yang ada di alam ini, maka akan mendapatkan keburukan, penderitaan, dan kekurangan.

3. Kelompok ketiga adalah yang memiliki perspektif dan pandangan sebagai berikut:

a. Alam eksistensi ini bukan merupakan alam yang terbaik dan juga tidak menyeluruh bersifat buruk, tetapi alam ini memiliki kebaikan, keindahan, keburukan, dan penderitaan.

b. Esensi manusia tidak bersifat buruk dan juga tak bersifat baik, namun pilihan, kebebasan, dan ikhtiar manusia dalam bertindak akan membentuk esensi dan hakikat wujudnya.

c. Apabila manusia berusaha maka niscaya dia dapat menyingkirkan dan menyirnakan keburukan-keburukan serta mencapai kebaikan-kebaikan dan kenikmatan-kenikmatan.

Mayoritas psikolog beranggapan bahwa "Optimisme" dan berpikir positif merupakan perkara yang fitrah dan berkeyakinan bahwa keberadaan faktor-faktor tak sehat dan kehendak-kehendak yang menyimpang mengakibatkan perkembangan fitrah manusia ke arah yang menyimpang pula dan manusia kemudian beralih dari puncak "Optimisme" ke lembah "Pesimisme" dan berpikir negatif.

Hasil penelitian para psikolog menunjukkan bahwa Pesimisme banyak dianut oleh masyarakat perkotaan dan juga kaum lelaki lebih banyak terjerumus ke lembah Pesimisme dibanding kaum hawa.


Filsafat Nihilisme


Pada kesempatan ini kami akan membahas substansi filsafat Nihilisme dan konsep-konsep para penganut-penganutnya. Pemeluk aliran filsafat ini adalah orang-orang yang memahami bahwa realitas yang ada di alam ini hanyalah keburukan. Mereka beranggapan bahwa fenomena-fenomena yang ada pada manusia tidak lain adalah penderitaan, kemalangan, kemiskinan, dan kehancuran. Begitu pula, segala maujud selain manusia adalah buruk dan tak bermanfaat bagi manusia. Secara umum, yang ada di alam hanyalah suara-suara keburukan dan atmosfir-atmosfir putus asa.

Pemikiran-pemikiran Nihilisme dapat dilihat pada karya-karya pendukung masyhur Nihilisme, seperti Jean Paul Sartre, Franz Kafka, Arbert K, Samuel B, Arthur A. Penulis-penulis ini mengungkap ketidakbermaknaan kehidupan dan Nihilisme dalam bentuk cerita-cerita. Sebagian penulis ini, berupaya membangun argumentasi rasional atas ketidakberartian kehidupan manusia dan Nihilisme.

Nihilisme merupakan kecenderungan baru di zaman moderen. Pada masa yang lalu, yang ada hanyalah Pesimisme dan bukan Nihilisme, namun di abad kontemporer Pesimisme mencapai puncak kejayaannya dan menjadi Nihilisme. Bunuh diri, lari dari tanggung jawab hidup, dan memandang hidup ini sebagai canda-gurau belaka adalah merupakan tanda-tanda bahwa manusia masa kini memandang rendah kehidupan dan terjebak dalam dunia Nihilisme.

Mayoritas manusia yang hidup di Barat tidak mengetahui mengapa dan bagaimana mesti menjalani kehidupan ini, mereka memikirkan segala hal, kecuali hakikat kehidupan dan kedudukan manusia di alam eksistensi. Begitu banyak manusia di dunia Barat memahami dirinya telah tenggelam di lautan tak bertepi bernama kehidupan dan tak memiliki harapan bagi keselamtan diri mereka. Nah, para penulis di atas meriakkan Nihilisme dan tak bermaknanya kehidupan, perkataan mereka adalah cerita tentang penderitaan beribu-ribu manusia yang telah kehilangan diri mereka sendiri dan telah putus asa akan keselamatan mereka di lautan yang tidak bertepi ini.

Di bawah ini akan disebutkan beberapa kondisi yang menyebabkan manusia abad kini cenderung pada Nihilisme dan perlahan-lahan memandang kehidupan ini tidak bermakna lagi, antara lain:

1. Pasca revolusi indusrti, dunia Barat sangat mengunggulkan ilmu dan industri sedemikian sehingga diposisikan sebagai "tuhan", namun ketika terjadi peperangan dan perubahan ekonomi dan sosial yang drastis dimana "tuhan " mereka tidak mampu menyelesaikan dan mengobati penderitaan-penderitaan manusia, mereka akhirnya putus asa dan kehilangan kepercayaan.

2. Dua perang dunia dan revolusi berdarah yang terjadi sekitar dua abad sebelumnya bersama dengan penjajahan membuat kehidupan manusia semakin terjepit dan gelap.

3. Ribuan manusia yang mengalami kemiskinan dan sebagian kecil manusia yang berada dalam kehidupan yang mewah dan berlebihan menjadikan mereka tersebut memandang kehidupan ini dengan pikiran negatif dan terjebak dalam pesimisme.

4. Pemikiran Darwin, Freud, Nitche, dan yang lainnya dimana menjungkirbalikkan prinsip-prinsip hakiki manusia dan mengarahkan kehidupan manusia pada jalan buntu, sehingga pada akhirnya mayoritas manusia mengalami keraguan pikiran dan kebingungan bertindak dalam kehidupan.

5. Maraknya penganut Materialisme dimana mereka berusaha menjauhkan kehidupan manusia dari Tuhan dan agama suci, hal ini menyebabkan manusia merasa asing di alam eksistensi.

6. Nilai-nilai manusia mengalami perubahan, yakni nilai-nilai etika dan akhlak. Realitas perubahan ini menepihkan hubungan kasih sayang manusia dimana berujung pada pesimisme kehidupan.


Faktor-Faktor Mendasar Kecenderungan Manusia pada Nihilisme


Secara umum, faktor-faktor tersebut terbagi dua:

1. Faktor-faktor internal atau individual;

2. Faktor-faktor eksternal atau sosial.

Adalah tidak diragukan bahwa dalam kerangka pengenalan manusia mustahil dipisahkan antara individu dan masyarakat, karena keduanya saling berpengaruh satu sama lain dan kalau faktor-faktor di atas dibagi menjadi dua bagian tidak lain adalah semata-mata karena intensitas efek dan pengaruh faktor yang satu atas faktor lainnya. Faktor-faktor internal seperti ketiadaan atau kesalahan pendidikan, perasaan terhina, tidak rela atas dirinya, dan aspek kejiwaan lain. Faktor-faktor eksternal seperti kerusakan lingkungan sosial, perubahan nilai-nilai manusia, pandangan dunia, dan lain lain.

Pada kesempatan ini, hanya faktor-faktor yang terpenting yang akan dianalisa. Di antara banyak faktor yang mungkin berpengaruh dalam mengantarkan manusia ke lembah pesimisme dan nihilisme, yang akan disebutkan adalah faktor-faktor yang bersifat umum dan universal yang meliputi banyak motivasi-motivasi partikular. Sebagai contoh, kerusakan dan kesalahan pendidikan merupakan salah satu faktor yang umum dan universal yang bisa mencakup aspek-aspek partikular seperti ketiadaan kasih sayang dalam program pengajaran, pendekatan yang non-manusiawi, kekerasan, dan lain-lain.

Dalam mengkaji faktor-faktor tersebut di atas harus memperhatikan poin-poin sebagai berikut:

1. Mustahil dapat dikatakan bahwa hanya satu faktor dan penyebab hadirnya pesimisme dan nihilisme, karena tabiat manusia hanya dapat berubah dengan faktor-faktor yang banyak. Lebih dari apabila hanya satu faktor yang berpengaruh dalam kejiwaan manusia, mekanisme defensif yang ada dalam diri manusia akan bisa menjinakkannya dan manusia tak terpengaruh olehnya.

2. Kecenderungan manusia pada pesimisme dan nihilisme memiliki derajat dan tingkatan, yakni semua individu yang terjebak dalam pesimisme dan nihilisme tidak berada dalam satu tingkatan kualitas yang sama. Dan kualitas ini sangat bergantung pada pribadi setiap individu.

3. Intensitas dan bentuk pesimisme dan nihilisme pada individu bergantung pada faktor-faktor yang berpengaruh atasnya, seperti seorang yang patah hati dalam cinta atau tidak berhasil mencapai kedudukan yang diinginkan akan terjebak dalam pesimisme, namun setelah berlalunya waktu ia mendapatkan cinta yang baru atau berhasil menggapai posisi yang lain, dengan demikian ia bisa bangkit lagi dan menjauh dari pesimisme. Sementara seorang yang jatuh ke lembah pesimisme dan nihilisme karena faktor kekeliruan dalam mengenal hakikat dan tujuan penciptaan alam semesta adalah sangat mungkin tetap terjebak dalam paham tersebut sepanjang hayatnya.

4. Pengaruh pesimisme dan nihilisme pada setiap manusia juga sesuai dengan umur dan kualitas rasionalitas dan pemikirannya serta karakter pribadi masing-masing individu, karena: Pertama, anak remaja pada masa baligh biasanya mengalami semacam goncangan kejiwaan dan cenderung pesimis yang disebabkan oleh transformasi masa kanak-kanak ke masa remaja dan perubahan pada struktur pisik dan jiwa yang merupakan kemestian di masa baligh. Sementara manusia yang telah dewasa lazimnya tidak mengalami perubahan semacam itu. Kedua, manusia yang memiliki pengetahuan luas dan setelah mempelajari beragam aliran-aliran pemikiran lantas tidak bisa menetapkan salah satu pemikiran yang benar, pada akhirnya akan mengalami kebingungan dan terjebak dalam pesimisme dan nihilisme. Pesimisme orang seperti ini pasti berbeda dengan pesimisme anak remaja yang baru melewati masa baligh. Ketiga, sisi kepribadian manusia menentukan kemampuan defensif dalam menghadapi realitas arus negatif pesimisme dan nihilisme. Individu yang terwarnai dengan warna asli keagamaan sangat sulit dan hampir mustahil terpengaruh oleh arus negatif ini. Sementara seseorang yang bebas dan tidak terikat dengan budaya agama kemudian tersandung dengan persoalan besar kehidupan yang tidak mampu ia selesaikan kemungkinan besar akan terimbas oleh arus itu.

5. Pesimisme dan nihilisme memiliki tahapan yang beragam dan sangat mungkin seseorang akan terjabak dalam pesimisme pada waktu tertentu, namun setelah penyebab keterjebakan itu sirna ia tak berada dalam lembah pesimisme. Keadaan lain mungkin terjadi pada manusia dimana sangat mustahil dia dapat bangkit dan melepaskan dirinya dari cengkeraman pesimisme sepanjang hidupnya.

Di bawah ini kami akan jabarkan dan uraikan faktor-faktor penting dan mendasar yang menyebabkan hadirnya kecenderungan manusia dan keterjebakannya dalam pesimisme dan nihilisme.


1. Dilema Penciptaan


Dalam perjalanan sejarah, manusia senantiasa ingin mengetahui dari mana dia berasal, untuk apa ia hadir di muka bumi ini, dan kemana ia akan pergi setelah kematian. Sebagian manusia merasa tidak mampu memberikan solusi atas persoalan-persoalan tersebut kemudian mengabaikannya dan sebagian lain yang minoritas sangat serius memandang masalah-masalah itu dan berusaha secara terus menerus mencari jawaban hakikinya.

Permasalahan tersebut dihadapi oleh semua kalangan pemikir dan filosof, namun problematika penciptaan itu dapat diselesaikan dengan cermat bagi sebagian filosof, terutama para filosof Muslim. Hal ini karena para filosof Islam, seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Khwajah Nashiruddin Thusi, Mulla Sadra, dan filosof Islam kontemporer, bersentuhan dengan sistem filsafat yang sempurna dan pengetahuan mereka yang lengkap terhadap teks-teks suci agama Islam. Dengan demikian, para filosof ini tidak jatuh ke lembah pesimisme dan nihilisme. Berbeda dengan para pemikir lainnya, seperti tokoh-tokoh yang dikenal sebagai pendukung filsafat pesimisme dan nihilisme, karena mereka tidak mempunyai sistem filsafat yang komprehensif, metodologi berpikir yang sempurna, dan tidak menjangkau sumber asli agama pada akhirnya tidak dapat memahami dan memberikan solusi yang sempurna atas semua persoalan tersebut. Dan puncaknya adalah mereka berpegang pada konsep pesimisme dan nihilisme.

Di sini bisa dikatakan bahwa manusia yang tidak berkontemplasi, bertadabbur, bertafakkur atas hakikat dan tujuan penciptaan serta tidak berupaya menggali rahasia eksistensi niscaya menyebabkan dia tertarik ke arah pesimisme dan tersungkur ke jurang gelap nihilisme. Sementara berpegang teguh pada sistem filsafat Ilahi dan teks suci agama, manusia dapat menyingkap tabir rahasia alam dan akan mengantarkannya pada pengetahuan hakiki tentang tujuan dan filsafat penciptaan, dengan demikian dia dapat selamat dari keterjebakan dalam pemikiran pesimisme dan pandangan nihilisme.


2. Rahasia Kematian


Fenomena kematian merupakan salah satu faktor yang mendasar bagi kecenderungan manusia kepada pesimisme dan nihilisme. Hakikat kematian yang tak terungkap menarik begitu banyak para pemikir dan filosof ke arah pesimisme. Manusia yang telah terjebak dalam kesenangan lahiriah dan juga mengetahui bahwa kesenangan itu mesti berakhir, maka seketika itu ia akan putus asa dan pesimis, kemudian dia akan bertanya pada dirinya sendiri, apakah kehidupan ini memiliki nilai?

Orang-orang yang tidak terperangkap dalam pesimisme dan nihilisme adalah hanya orang-orang yang percaya bahwa pasca kematian terdapat alam keabadian (alam akhirat) dan yakin bahwa kehidupan di dunia ini adalah suatu tahapan untuk memasuki tahapan lain dari kehidupan yang lebih sempurna dan abadi, dengan demikian kematian bukan akhir dari kehidupan, tetapi jembatan yang menghubungkan antara dunia ini dengan dunia lain. Namun bagi mereka yang tidak percaya akan keberadaan alam-alam lain selain alam materi ini, maka kematian bermakna akhir kehidupan, dengan kedangkalan pengetahuan ini mereka niscaya akan pesimis dan menganut nihilisme.


3. Keraguan


Pada satu sisi keraguan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengenal alam wujud dan eksistensi. Seorang pemikir dan filosof yang belum mengalami keraguan terhadap masalah-masalah eksistensial dan ontologi pada umumnya tak bisa mengenal secara luas realitas-realitas lain.

Pencapaian-pencapaian ilmiah dan filsafat yang dialami oleh sekian banyak pemikir dan filosof bersumber dari keraguan-keraguan terhadap tema-tema mendasar makrifat manusia, apabila ilmu dan pengetahuan manusia tidak diragukan oleh para ilmuwan, maka ilmu dan pengetahuan manusia akan tetap berada dalam tingkatan tertentu, tidak mengalami kemajuan, dan tidak akan lahir beragam aliran dan sistem pemikiran ilmu dan filsafat.

Jika manusia menjadikan keraguan tersebut sebagai perantara dan jembatan menuju perolehan pengetahuan dan makrifat ontologi serta ilmu-ilmu lainnya, maka hal tersebut sangatlah bermanfaat. Namun kalau keraguan seseorang tetap berlangsung, artinya dia tetap berada dalam keraguan dan tetap tinggal pada jembatan keraguan tersebut, bahkan meragukan hal-hal yang paling gamblang, jelas, dan aksioma sekalipun seperti meragukan keberadaan alam ini atau keberadaan dirinya sendiri, maka bentuk keraguan ini tidak boleh dikategorikan sebagai keraguan ilmu dan filsafat, karena orang seperti ini sesungguhnya mengalami sakit kejiwaan. Walhasil, bentuk keraguan semacam ini, yakni keraguan kejiwaan, akan menarik manusia kearah pesimisme dan nihilisme, karena dia telah sampai meragukan semua persoalan bahkan kepada keberadaan dan eksistensi kehidupannya sendiri.


4. Ketiadaan Cita-Cita dan Ideologi


Tanpa diragukan bahwa manusia yang tidak memiliki harapan, tujuan, cita-cita, dan ideologi pasti akan mengalami putus asa dan pesimisme. Seseorang yang tidak menentukan arah dan tujuan kehidupannya yang kemudian berusaha dengan segenap kemampuan menggapainya atau dia hanya mengikuti perubahan-perubahan yang ada dan menempatkan dirinya semata pada realitas yang ada, maka ketika berbenturan dengan berbagai kejadian dan fenomena yang tidak menguntungkan dirinya dan bahkan terjebak dalam persoalan yang tidak ada solusinya pasti akan putus asa dan pesimis.

Keberadaan tujuan, cita-cita, harapan dan ideologi dalam kehidupan pada beberapa aspek bisa mengantisipasi pesimisme dan nihilime, pertama manusia yang memiliki ideologi pasti akan berharap untuk sampai pada cita-cita ideologinya dan harapan ini akan mencegah manusia untuk putus asa dan pesimis. Kedua, segala usaha untuk mencapai tujuan ideologi membuat manusia menjadi sangat sibuk dengan dirinya dan tidak mengijinkan pikiran-pikirannya terpengaruh oleh pesimisme dan nihilisme.

Ketiadaan ideologi pada individu dan masyarakat merupakan salah satu alasan fundamental bagi kecenderungan sebagian besar remaja dan pemuda kepada pesimisme, karena mereka ini sama sekalai tidak mengetahui secara hakiki apa yang diinginkan dan apa yang dicari dalam kehidupan ini.

Perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat dan kontradiksi-kontradiksi yang ada dalam berbagai tradisi kehidupan manusia menyebabkan lahirnya perubahan pada nilai-nilai, harapan, cita-cita, dan ideologi manusia, dan realitas perubahan yang tak tertolak ini menghadirkan keberadaan suatu kelompok manusia yang tidak mampu menetapkan satu ideologi bagi mereka secara sempurna. Bertrand Russel memandang bahwa salah satu faktor mendasar kecenderungan sebagian remaja dan pemuda di Barat kepada pesimisme adalah ketiadaan ideologi dan cita-cita yang sempurna. Ia sangat berkeyakinan bahwa perubahan nilai-nilai agama menyebabkan hilangnya berbagai cita-cita, berkata, "Apabila pemuda dan remaja di Barat sekarang ini hanya menampakkan sikap pesimisme, maka hal ini mesti disebabkan oleh faktor khusus. Pada masa kini, para pemuda bukan hanya tidak bisa menerima apa yang dikatakan pada mereka, bahkan mereka tidak bisa lagi meyakini dan mempercayai sesuatu. Dan keadaan ini sangatlah ajaib dan mesti mendapatkan suatu perhatian dan observasi khusus. Mari kita mengkaji ulang satu persatu cita-cita dan ideologi masa lalu dan mencari tahu mengapa cita-cita dan ideologi tersebut tidak lagi memberikan pengaruh dan menarik perhatian remaja dan pemuda."[5]


5. Perubahan Nilai


Salah satu faktor yang penting ketika suatu masyarakat berpindah dan berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain dan menyebabkan hadirnya pesimisme pada manusia adalah persoalan nilai-nilai, karena ketika terjadi perubahan pada setiap masyarakat begitu banyak nilai-nilai akan juga mengalami perubahan, diinginkan atau tidak. Perubahan nilai-nilai ini - dimana sebelum terjadinya perubahan tersebut manusia sangat bergantung dan bersandar padanya serta menafsirkan kehidupan dengannya - menyebabkan terjadinya suatu pukulan yang besar pada kejiwaan manusia. Seseorang yang sangat berpijak pada tradisi-tradisi, pada suatu kondisi akan mengalami kebingungan yang bersumber dari satu kontradiksi kejiwaan. Suatu kontradiksi dalam menerima dan memilih nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai baru. Kalau seseorang ini memiliki kualitas pikiran dan pengetahuan luas yang dengannya ia dapat memilah yang baik dan yang buruk serta memilih yang baik itu sebagai suatu nilai baru baginya, maka dia pasti terhindar dari problematika kejiwaan baik dari aspek pikiran maupun dari dimensi perbuatan. Namun apabila dia tidak mampu memilih suatu nilai baru baginya, yakni dia tidak bisa menerima nilai-nilai baru itu bagi pembentukan pribadinya dan penerapan nilai-nilai lama juga akan mengalami hambatan yang sulit, maka dia akan mengalami suatu keraguan yang berpuncak pada keadaan yang pesimisme dan putus harapan.

Sebagai contoh, salah satu nilai yang mengalami perubahan pada masa kini adalah cinta. Pada abad-abad yang lalu, cinta dan kasih sayang merupakan tiang pokok dan pondasi utama kehidupan manusia yang menyebabkan kehangatan pada keluarga dan keterikatan seseorang pada keluarganya, namun pada masa kini, dikarenakan kebebasan seksual, cinta dan kasih sayang tidak bermakna lagi. Hal inilah yang menyebabkan ketiadaan keterikatan manusia lagi pada kehidupan keluarganya. Nilai-nilai lain yang mengalami perubahan adalah dalam masalah akhlak. Pada masa kini, beberapa nilai akhlak mengalami perubahan lewat pemikiran Darwin, Marks, dan Nitche. Di masa lalu kasih sayang, cinta, memaafkan, kedermawanan, dan pemurah adalah nilai-nilai kebaikan, namun sekarang ini, menurut pandangan Nitche, kekerasan, kekejaman, kekejian, ketidaksopanan, pameran kekuatan, dan riya adalah nilai-nilai baik. Perubahan konsep ini menyebabkan memudarnya nilai-nilai akhlak, hubungan dan kepercayaan sesama manusia menjadi sirna, dan tak ada lagi cinta dan kasih sayang. Puncak dari semua perubahan nilai ini adalah hilangnya keterikatan manusia pada kehidupan.


6. Materialisme


Seorang penganut materialisme beranggapan bahwa seluruh fenomena, peristiwa, dan kejadian yang terwujud di alam semesta ini bersumber dari hal-hal yang bersifat kebetulan belaka dan tidak berasal dari rangkaian sebab-akibat (kausalitas). Mereka juga memandang bahwa manusia menjalani kehidupan di dunia ini dalam beberapa waktu dan kehidupan manusia akan berakhir dengan kematian (yakni pasca kematian tak ada lagi kehidupan bagi manusia). Ajaran materialisme menetapkan bahwa kehidupan dunia merupakan puncak tujuan manusia dan kebahagiaan dititik beratkan pada kehidupan materi dan kesejahteraan hidup. Sementara agama dan pandangan dunia ilahi meletakkan kehidupan dunia ini sebagai perantara dan bukan akhir kehidupan serta untuk mencapai kehidupan yang kekal dan sempurna mesti melewati gerbang kematian. Jadi dalam hal ini, kehidupan dunia merupakan alat untuk menggapai kesempurnaan hakiki dan bukan tujuan hakiki kehidupan manusia. Dengan demikian orang-orang yang beragama bisa menanggung kesulitan, penderitaan, dan malapetaka yang terjadi di dalam kehidupan duniawi dan tidak jatuh ke jurang pesimisme dan nihilisme. Berbeda dengan orang-orang materialisme yang tidak percaya pada Tuhan dan kehidupan pasca kematian, beranggapan bahwa keberadaan diri mereka dan alam semesta ini tidak memiliki arah dan tujuan serta memandang bahwa kehidupan dunia ini adalah perkara yang sia-sia dan tak bermakna. Kehidupan dunia dalam gagasan materialisme merupakan suatu pengulangan-pengulangan yang meletihkan dan membebani manusia, dengan demikian segala usaha manusia pun bersifat sia-sia dan tidak berguna sama sekali.

Kaum materialis tidak memahami rahasia dan hakikat penciptaan, oleh karena itu mereka pun tidak akan mengetahui asal keberadaan mereka, tujuan kehadiran mereka di dunia ini, dan puncak perjalanan kehidupan mereka. Ujung dari semua ini tidak lain ialah keraguan, pesimis, putus asa, merasa asing , teralienasi, dan tidak ada tempat untuk mengeluhkan dan memohon pertolongan.

Pada hakikatnya manusia membutuhkan tempat berlindung dan berpijak yang tanpa itu manusia mustahil menjalani kehidupan. Setiap tujuan yang dipilih dan ditetapkan oleh kaum materialis, karena bersifat nisbi dan relatif, bukan merupakan tempat berlindung dan batu pijakan hakiki. Namun orang-orang beragama yang menempatkan Tuhan sebagai tempat berlindung dan bersandar, karena Dia sebagai Yang Maha Mutlak dan meliputi segala perkara kehidupan manusia serta memiliki pengaruh yang tidak terbatas, merupakan sebaik-baiknya ideologi.


7. Lingkungan Sosial


Kondisi lingkungan sosial yang tidak seimbang menyebabkan begitu banyak manusia tertarik ke arah pesimisme dan nihilisme. Faktor ini, khususnya di abad kontemporer, merupakan salah satu hal yang mendasar keterjebakan manusia pada pesimisme. Tokoh-tokoh pencetus ide pesimisme, seperti Sartre, Albert K, dan Kafka, yang apabila ditelaah latar belakang kehidupan mereka nampak bahwa faktor lahirnya gagasan mereka ini disebabkan oleh kondisi lingkungan sosial yang tidak seimbang dan tidak teratur.


8. Pendidikan


Seseorang yang dibesarkan dan dididik di dalam keluarga yang terdidik, suci, penuh kasih sayang dan cinta sangat kecil kemungkinan mengalami pesimisme. Hal ini akan sangat berbeda dengan seseorang yang dibesarkan di dalam keluarga yang tidak berpendidikan, tidak bermoral, penuh kebencian dan tidak memiliki cinta dan kasih sayang yang proporsional. Masalah pendidikan ialah hal yang paling mendasar untuk mewujudkan manusia yang sukses dan berhasil dalam kehidupan atau juga menghadirkan manusia yang pesimisme dan nihilisme. Pendidikan yang membuat manusia menjadi sempurna adalah pendidikan yang berpijak pada filsafat penciptaan, dalam koridor hakikat kemanusiaan, dan ajaran Ilahi.


9. Kegagalan Meraih Cita-Cita


Kebanyakan manusia meletakkan sesuatu dalam kehidupan sebagai cita-cita dan berusaha mewujudkannya. Namun karena suatu halangan mereka tidak dapat meraih cita-cita tersebut dan akhirnya berujung pada putus asa dan pesimisme. Penentuan cita-cita dan ideologi merupakan asas kehidupan, namun bersyarat bahwa ideologi yang dipilih oleh manusia itu mesti jauh dari segala kekurangan dan kelemahan. Manusia ketika menentukan suatu tujuan dan harapannya untuk mencapai tujuan tersebut harus sesuai dengan nilai yang ada pada tujuan itu, dengan ungkapan lain bahwa nilai harapan bergantung pada nilai tujuan dan cita-cita yang dipilih oleh manusia. Berdasarkan hal ini, kalau manusia berhasil menggapai cita-citanya, maka kebahagiaannya pasti sesuai dengan tingkatan nilai yang ditentukan dalam cita-citanya tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila dia tidak sukses meraih cita-citanya, maka kualitas putus asa dan pesimismenya sesuai derajat nilai cita-cita.

Walhasil, putus asa dan pesimisme setiap orang yang lahir dari kegagalan meraih cita-cita adalah bertingkat-tingkat dan berbeda-beda, karena bergantung pada nilai cita-cita tersebut. Oleh karena itu, pertama-tama harus teliti dalam memilih tujuan dan untuk tujuan ini mesti sesuai dengan nilai yang merupakan tuntutan hakiki kehidupannya. Manusia tidak selayaknya menentukan suatu tujuan yang pada hakikatnya bukan tujuan utama dan memandang tujuan tersebut sebagai sesuatu yang sangat bernilai dan berharga, karena kalau dia tidak berhasil mencapainya pasti akan mengalami putus asa, kekecewaan, pesimisme, dan nihilisme. Dengan demikian, dia justru akan kehilangan tujuan hakiki dan nilai kehidupan yang sangat berharga dan abadi, yakni kebahagiaan, kesempurnaan, dan keselamatan di alam akhirat yaitu alam pasca kematian.


10. Merasa Rendah Diri


Merasa rendah diri dan hina juga merupakan faktor lahirnya pesimisme. Apabila rasa rendah diri ini mencapai derajat tertentu akan menyebabkan suatu penyakit kejiwaan. Pada umumnya, orang yang mengidap penyakit ini pada awalnya senantiasa melihat cacat dan kelemahan dirinya serta tidak memandang kelebihan dirinya.

Sesungguhnya perasaan seperti ini juga memiliki sisi positif, karena membuat manusia berusaha menyempurnakan dirinya. Tapi pada level negatif menyebabkan manusia merasa asing dengan diri sendiri dan larut dalam kelemahan dirinya. Dan karena dia merasa gagal dalam kehidupan lantas menjadi pesimis dan putus asa. Dia menderita terus menerus dalam kerendahan dirinya dan kehilangan sikap untuk mengambil suatu keputusan yang tegas dan benar.


11. Ketidaksesuaian dengan Lingkungan


Kesesuaian dengan lingkungan merupakan salah satu syarat mendasar bagi kehidupan suatu makhluk hidup. Apabila diamati kehidupan binatang, maka kita akan memahami bahwa setiap kali berhadapan dengan kesulitan senatiasa berusaha supaya sistem kehidupannya disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan adaptasi terhadapnya. Kalau binatang itu kehilangan adaptasinya, maka niscaya kehidupannya akan segera punah. Manusia dalam hal ini sedikit berbeda dengan hewan, manusia mempunyai ilmu dan kemampuan yang luas untuk beradaptasi terhadap lingkungan.

Apabila manusia tidak mampu menemukan lingkungan yang pantas dan sesuai dengannya, maka akan putus asa, mengalami goncangan kejiwaan, dan terjebak dalam pesimisme dan nihilisme. Dengan demikian, dia akan kehilangan nilai yang sangat berharga dalam kehidupannya yang mendatang, yakni akan kehilangan kesempurnaan hakiki dan kebahagiaan abadi.


12. Tidak Rela atas Keadaan Diri


Salah satu faktor penting dan mendasar yang menyebabkan manusia terjebak pesimisme adalah tidak rela terhadap kondisi diri, yakni manusia tidak rela atas jenis kelaminnya. Misalnya seorang laki-laki atau perempuan tidak rela atas kelaki-lakiannya atau keperempuannya. Kerelaan atas kondisi diri merupakan syarat atas keseimbangan jiwa dan ruhani manusia.[selesai]


Catatan Kaki:


[1] . Paham yang dianut orang-orang yang mencari kesejahteraan semata-mata.

[2] . Paham yang dianut orang-orang yang mencari kesenangan semata-mata.

[3] . Filsafat Nihilisme, Albert K, penerjemah: Muhammad Giyatsi, hal 94.

[4] . Dalam pandangan Leibniz, alam materi merupakan ciptaan Tuhan dan bersumber dari iradah-Nya. Oleh karena itu, alam materi ini merupakan alam materi yanmg terbaik. Tuhan mencipta alam materi ini dengan penciptaan yang terbaik, yakni penciptaan ini dikatakan terbaik berdasarkan kondisi-kondisi dan karakteristik alam materi itu sendiri, bukan dibandingkan dengan dua alam lainnya (alam barzah dan alam akal).

[5] . Bertrand Russel, Dar setoyesy-e Ferogat, hal 210, penerjemah: Ibrahim Yunusi.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Loading...
Loading...