Salam, semoga bermanfaat. By Udhin Prasetya

Sabtu, 12 November 2011

Implementasi Tauhid Dalam Gerakan Sosial


Sebagai pemuda, sambutlah uluran nilai tauhid untuk menjadi solusi dalam melawan tirani kapitalisme, liberalsme, dan modernisme dalam arus globalisasi.   Bukankah bumi ini diwariskan untuk kaum tertindas yang berjuang untuk menegakkan nilai tauhid dalam kehidupan.
Pemahaman Tauhid
Dalam sejarah kehidupan manusia, manusia adalah penyembah secara naluriah, kendati watak penyembahannya berbeda-beda, seperti penyembahan api oleh kaum zoroaster, Hindu yang menyembah banyak dewa, begitupun pada zaman Yunani kuno dimana mereka menyembah banyak Dewa. Begitupun pada masa Nabi Ibrahim AS , Musa,dan Muhammad Bin abdullah.  Ibrahim pada masanya mendapatkan ummatnya menyembah berhala,  pada masa Musa kita mendapati sosok firaun yang menganggap dirinya sebagai Tuhan. Pada masa Nabi Muhammad kita mendapati bahwa masyarakat pada saat itu menyembah berhala. Dari contoh tersebut dapat dimakanai bahwa pada diri manusia ada fitrah untuk menyembah Tuhan. Diutusnya Ibrahim  sampai Muhammad mengajarkan tentang monoteisme yaitu pengesaan Tuhan. Dan pada risalah kenabian yang terakhir  Muhammad datang untuk memurnikan ajaran ajaran nabi  sebelumnya yang telah tercampuri oleh pikiran- pikiran manusia yang tidak sejalan dengan ajaran monoteisme.
Tauhid dalam tinjauaan islam merupakan hal yang sangat urgen yang harus dipahami oleh setiap individu. Dikarenakan tauhid merupakan inti dari ajaran monoteisme. Tauhid merupakan tujuan risalah Ketuhanan yang disampaikan oleh utusan-utusan Nya. Tauhid berasal dari kata ahad, wahid, yang  diartiakan sebagai pengesaan Tuhan. Ibarhim sebagai Nabi yang mengajarkan tentang ketundukan  Aqal akan adanya pencipta yang Esa,  lewat pambacaan alam raya, bulan , bintang dan matahari. Dari pengamatannya tersebut ia berhasil menundukkan aqalnya  untuk mengakui keberadaan sang pencipta.
tauhid adalah pengesaan Tuhan dan tidak menyamakannya dengan apapun:
Katakanlah muhammad “Dialah Allah, Yang Maha Esa,  Allah tempat meminta segala sesuatu, Allah tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan Dia. (surah 142(al ikhlas) ayat 1-4 )
Ayat diatas menjelaskan dengan terperinci  tentang Tuhan, keesaannya, penafian tempat meminta selain Dia (larangan syirik) dan penegasan bahwa tidak ada sesuatupun yang Menyamai-Nya. Konsep ketauhidan inilah  yang menjadi pedoman islam sabagi agama yang mengajarkan keseragaman pemahaman tentang tuhan, keseragaman cara penyembahan pada tuhan yang tunggal. Dalam islam persaksian tentang keesaan tuhan (monoteisme) diterjemahkan lewat syhadat.
Peran Tauhid Dalam Gerakan Sosial
Konsep Islam mengenai masyarakat atas dasar tauhid menjadi hal yang relevan untuk dikaji secara mendalam. Pandangan Tauhid yang mengesakan Tuhan menjadikan manusia sama dengan yang lain. kesamaam manusia tersebut dalam pandangan Tauhid  mengisyaratkan  bentuk pandangan yang melihat manusia sama dalam kesatuan ummah tampa ada perbedaan. Dalam kehidupan social tampak perbedaan antara pengusa produksi dengan para pekerja, terbentuknya kelas kelas agama, dan strata sosial yang berbeda pula Semua kontradiksi antara hitam dengan putih, pengusa dengan yang dikuasai, majikan dengan pembantu tersebut dihapuskan lewat pandangan tauhid. “Semua kontradiksi tersebut hanya bisa diselesaikan denga tauhid monoteisme, bukan dengan banyak tuhan”(Ali syariati ).
Ajaran tauhid dalam islam tidak begitu saja dengan mudah dipahami, tapi ia (tauhid) butuh kontemplasi yang penuh dengan renungan mendalam agar ketauhidan tersebut mampu mengisi jiwa jiwa kemanusiaan, ruang ruang pengetahuan sehingga mampu diterjemahkan dalam wilayah aplikasi di dataran social. Ritual ritual agama atau ibadah dalam agama jika mampu dipahami secara hakekat akan menunjukkan sebuah ajaran tauhid yang universal. Salah satunya adalah ibadah haji, dimana manusia berkumpul secara bersama, melakukan ibadah yang seragam, dan memakai kain putih yang seragam, manusia melepaskan ego mereka, tidak ada perbedaan status jabatan, berbuat yang sama  hal inilah yang menjadi ajaran yang luar biasa jika diterjemahkan dalam ranah social. Ajaran tauhid kemudian menghilagkan perbedaan, menyetarakan manusia.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa dunia islam yang bertauhid telah mengajarkan nilai kemanusiaan. Bahwa jiwa jiwa dari dari ajaran tauhid  memberi jaminan untuk mempertahankan diri dari serangan ancaman dari yang lain
Di izinkan berperang bagi orang orang yang diperangi, karena sesungguhnya  mereka di zalimi. Dan sesungguhnya allah maha kuasa menolong mereka. (surah 22 al hajj ayat 39)
Ayat ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak suka dengan orang orang zalim, Ia mengizinkan untuk melakukan perlawanan terhadap musuh. Ajaran tauhid memberikan pemahaman bahwa kedaulatan hanya ada pada tuhan penguasa alam semesta, dengan begitu tidak alasan untuk taat pada pengusa yang tidak taat pada ajaran tauhid, Nabi Muhammad berkata ;
Tidak ada kewajiban untuk taat kepada seseorang penguasa yang tidak taat kepada Allah(marchel A boisard, humanisme islam hal 171)
Pembangkaan terhadap pengusa tiran bukan hanya hak tapi kewajiban’., karena orang orang mukmin mempunyai kewajiban untuk” ber Amar ma’ruf nahi mungkar” sehingga ajaran ini  menjadi landasan gerak bagi gerakan islam yang ingin mewujudkan tatanan masyarakat yang merdeka dan diridhoi Allah SWT. Dalam gerakan social, islam sebagai agama tauhid berpendirian bahwa bersatunya manusia dalam masyarakat adalah suatu kesatuan sebagai inti dari ajaran tauhid yaitu penyatuan tujuan kesatu titik yaitu Tuhan yang diterjemahkan dalam penyatuan manusia dalam bermasyarakat. Sehingga penyatuan masyarakat yang dilandasi ajaran tauhid akan melakukan pelawanan terhadap ajaran tirani yang mengeksploitasi manusia. Hal ini bisa dilihat dari sejarah kedatangan Muhammad, pada masa dimana terjadi ketimpangan ekonomi, ketimpangan nilai kemanusiaan. Beliau datang membawa risalah yang memerdekakn manusia dari ekploitasi kemanusiaan dan ekonomi. Ajaran ketauhidan tersebut memberi warna dalam kehidupan masyarakat, itulah yang ditakuti oleh pengusa atau kabilah kabilah penguasa pada saat itu, sehingga mereka dengan tegas menolak ajaran tauhid tersebut yang akan menghancurkan dominasi mereka yang kemudian digantikan oleh Tuhan. Islam sebagi agama Tauhid memiliki konsekwensi logis akan tidak adanya penghambaan terhadap kekayaan hal ini dijelaskan dalam alQuran:
Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung  hitungnya. Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.(surah 104 alhumazah 1-2)
Penggambaran ayat ini sangat relevan dengan kondisi keummatan saat ini. Dimana manusia- manusia menjadi budak harta, segala sesuatu diukur dengan materi. Pengumpulan harta tidak lagi melihat sisi nilainya, darimana, bagaimana, dan untuk apa harta tersebut. Hal inilah yang membuat manusia menjadi penyakit terhadap manusia  yang lain. Dikarenakan terampasnya sebagian hak-hak yang lain dari ulah manusia rakus. Dari hal tersebut kondisi ummah harus dikembalikan pada jalan yang lurus meskipun penuh resiko dalam melakukannya. Gerakan tauhid harus digelorakan disetiap tempat, spirit nilai harus  mampu mengisi ruang ruang gerak aktivitas manusia. Membumikan gerakan tauhid  untuk perbaikan  kondisi ummah mestilah dilakukan. Perlawanan terhadap penindasan dan ekspansi budaya harus dilawan dengan jiwa tauhid, sehingga tauhid tersebut menjadi perisai untuk memperjuangkan  nilai kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Loading...
Loading...