Salam, semoga bermanfaat. By Udhin Prasetya

Minggu, 13 November 2011

ARGUMEN TAUHID DAN SEBAB-SEBAB KEMUSYRIKAN


 
Mukadimah 

Pada beberapa kajian yang telah lalu, telah kita buktikan kemestian adanya Tuhan Pencipta alam semesta dan pencipta manusia. Setiap insan, dengan akalnya yang sehat dan normal, atau dengan fitrahnya yang suci, pasti meyakini adanya Tuhan Pencipta. Sebagaimana ia meyakini keberadaan dirinya dan yang di sekitarnya. Dengan beberapa argumen rasional, telah ktia buktikan wujud Tuhan Yang Mahatahu, Mahakuasa dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan serta ternafikan dari segala sifat kekurangan. Dialah yang menciptakan, memelihara dan mengatur alam semesta ini. Lebih dari itu, kami juga telah memaparkan pandangan dunia Materialisme terhadap alam semesta. Dan melalui catatan kritis kami terhadap beberapa pandangan tersebut, menjadi jelas bagi kita, bahwa kemestian adanya alam semesta tanpa Tuhan Pencipta, adalah merupakan kemestian yang irrasional dan penafsiran yang tidak mungkin dapat diterima oleh setiap insan yang berakal sehat.

Selanjutnya, pada kesempatan ini dan pada kajian berikutnya, kami akan membahas tema Tauhid, sekaligus menyanggah pandangan dan keyakinan orang-orang musyrik.

Perkembangan kemusyrikan atau syirik kepada Tuhan Yang Esa, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan keyakinan di masyarakat. Para sosiolog mengajukan berbagai macam pandangan seputar perkembangan keyakinan-keyakinan syirik di masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan silih-berganti. Tetapi, pandangan dan penafsiran itu tidak berdasarkan dalil yang kokoh dan akurat.

Sehubungan dengan hal itu, pertanyaan yang layak dilontarkan adalah: Bagaimanakah, dan kapankan kecendrungan masyarakat kepada kemusyrikan itu mulai timbul? Atau: faktor apakah yang menjadi sebab utama terjadinya kemusyrikan dan meyakini banyak Tuhan tersebut? Ada kemungkinan, bahwa faktor pertama kecenderungan syirik dan keyakinan pada banyak Tuhan, adalah tatkala seseorang melihat banyak dan beragamnya realitas-realitas di langit dan di bumi. Mulai dari situlah mereka berkeyakinan, bahwa setiap bagian realitas itu tunduk di bawah pengaturan Tuhan tertentu. Misalnya matahari memiliki Tuhan tertentu yang mengaturnya. Rembulan tunduk dibawah pengaturan Tuhan yang lainnya. Dan begitulah seterusnya bagi benda-benda dan realitas-realitas lainnya, baik yang berada di bumi maupun yang di langit. Masing-masing memiliki Tuhan tertentu yang mengawasi dan mengaturnya. Bahkan, sebagian dari mereka percaya, bahwa seluruh kebaikan itu bersumber dari Tuhan kebaikan. Sementara seluruh keburukan berasal dari Tuhan keburukan. Berangkat dari sinilah, mereka yakin bahwa alam semesta ini memiliki dua sumber wujud dan pencipta; Pencipta kebaikan dan Pencipta keburukan

Demikian pula pengamatan mereka terhadap pengaruh sinar matahari, bulan dan bintang-bintang terhadap realitas bumi. sehingga -dari satu sisi-mereka memandang bahwa benda-benda tersebut memiliki suatu bentuk pengaturan terhadap apa yang ada di bumi. Dari sisi lain, bahwa kecendrungan manusia untuk menyembah sembahan yang dapat diindera, mendorong mereka untuk membuat berbagai lambang dan simbol bagi Tuhan-Tuhan yang mereka anggap layak untuk mereka sembah. Lambang-lambang itu, lambat laun, mendarah daging dan terukir di hati orang-orang yang pikirannya lemah. Selanjutnya setiap bangsa, bahkan suku, membuat ritual keagamaan tertentu -sesuai dengan anggapan mereka masing-masing- yang bertujuan untuk menyembah lambang tersebut. Dengan cara itulah mereka dapat memenuhi desakan fitrah -untuk menyembah Tuhan Pencipta- dari dalam diri mereka.

Lebih dari itu, mereka pun berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan hewani dan hawa nafsunya dalam bentuk kesucian agama. Dan sebagian dari ritual-ritual keagamaan tersebut, masih berlanjut hingga sekarang, yang disertai dengan berbagai macam tarian, nyanyian, minum khamar, hubungan seks dan perilaku hewani lainnya, yang semua itu mewarnai suasana ritual keagamaan para penyembah lambang tersebut. Di negara kita Indonesia misalnya, fenomena semacam itu masih dapat kita saksikan, atau paling tidak kita dengar, di daerah-daerah pedalaman Kalimantan atau Sumatera dan di tempat-tempat lainnya.

Di samping itu semua, adanya tujuan para penguasa zalim, congkak dan tamak, yang sengaja ingin memanfaatkan keyakinan dan pemikiran masyarakat awam demi memenuhi ambisi busuk mereka, mengokohkan dan memperluas daerah kekuasaan mereka. Untuk tujuan itulah mereka menebarkan keyakinan-keyakinan syirik, menurunkan pengaturan alam di bawah kuasa mereka, dan menjadikan raja-raja yang zalim sebagai sembahan dan bagian dari upacara keagamaan. Kenyataan ini tampak begitu jelas pada raja-raja dan sultan-sultan di Cina, India, Iran, Mesir dan negeri-negeri yang lain.

Dengan demikian, dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bahwa keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu telah tumbuh dan berkembang di tengah umat manusia karena faktor yang beragam. Lalu, keyakinan-keyakinan itu tersebar luas, sehingga menjadi kendala bagi proses kesempurnaan hakiki umat manusia, yaitu proses yang hanya dapat dicapai melalui ajaran Ilahi dan Tauhid. Oleh karena itu, para nabi dan utusan Tuhan, mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk memberantas syirik.

Pada dasarnya, keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu, bertumpu pada kepercayaan adanya pengatur alam selain Tuhan Yang Esa. Di samping itu, banyak kaum musyrik yang percaya, bahwa pencipta alam semesta adalah satu. Buktinya adalah bahwa mereka mempercayai konsep Tauhid dalam penciptaan. Tetapi pada saat yang sama, mereka pun meyakini adanya Tuhan-Tuhan sebagai pengatur alam secara mandiri. Dan mereka juga menamakan Tuhan Pencipta sebagai “Tuhan di atas Tuhan-Tuhan pengatur”.

Sebagian mereka menganggap, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah malaikat. Musyrikin Arab percaya, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah putri-putri Allah. Sebagian lainnya percaya, bahwa mereka itu adalah jin. Di antara mereka ada pula yang percaya, bahwa mereka itu adalah ruh bintang-bintang, atau ruh orang-orang terdahulu, atau bentuk-bentuk maujud yang abstrak.

Sebagaimana pernah kami singgung, bahwa sebenarnya terdapat kaitan yang erat antara penciptaan (Khaliqiyah) dengan pengaturan (Rububiyah) yang hakiki. Sehingga keimanan pada penciptaan dan pengaturan itu tidak dapat dipisahkan sama sekali. Dan keimanan kepada Allah sebagai pencipta alam raya ini, tidak sejalan dengan kepercayaan kepada selain Allah sebagai pengaturnya. Mereka yang memiliki keyakinan adanya dua Tuhan; Tuhan Pencipta dan Tuhan Pengatur, sesungguhnya belum menyadari adanya kontradiksi di dalamnya. Untuk menyanggah keyakinan mereka, cukuplah dengan mengangkat poin kontradiksi tersebut.

Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil atas Tauhid kepada Allah yang telah dipaparkan di berbagai kitab Teologi dan Filsafat. Di sini, kami hanya akan membawakan satu dalil saja, yang secara langsung menunjukkan Tauhid dalam pengaturan, sekaligus menyanggah keyakinan-keyakinan kaum musyrik.

Argumen atas Tauhid kepada Allah

Sesungguhnya memestikan dan meyakini banyak Tuhan bagi alam semesta ini, tidak keluar dari beberapa asumsi berikut ini:

Pertama: Kita memestikan bahwa setiap realitas alam ini merupakan akibat dan diciptakan oleh seluruh Tuhan tersebut.

Kedua: Setiap unit atau kelompok realitas alam ini, adalah akibat dan diciptakan oleh satu Tuhan di antara Tuhan-Tuhan yang banyak itu.

Ketiga: Semua realitas di alam ini, diciptakan oleh Tuhan Yang Esa, sementarta Tuhan-Tuhan yang lain, berperan sebagai pengatur mereka.

Asumsi bahwa setiap realitas alam ini memiliki banyak Tuhan sebagai Tuhan-Tuhan Pencipta, adalah asumsi yang mustahil. Sebab, keyakinan ini berarti memestikan ada dua Tuhan atau lebih, sebagai pencipta dan sebagai sebab-pewujud. Artinya bahwa, setiap Tuhan itu memberi wujud kepada setiap realitas alam. Konsekuensinya adalah bahwa setiap realitas itu memiliki Tuhan-Tuhan yang banyak sekali, sebanyak bilangan yang diasumsikan. Padahal kenyataannya sudah jelas, bahwa setiap realitas, hanya memiliki satu wujud saja. Tidak lebih dari satu wujud.Karena jika tidak demikian, tentu setiap realitas tidak lagi satu.

Adapun asumsi bahwa setiap Tuhan itu menciptakan satu makhluk, atau menciptakan sekelompok makhluk tertentu, hal ini berarti, bahwa masing-masing makhluk itu bergantung hanya kepada penciptanya saja, dan tidak butuh kepada maujud yang lain, kecuali dalam hal-hal yang kebutuhannya itu berakhir kepada penciptanya. Dan ini merupakan kebutuhan yang khas bagi makhluk-makhluknya. Dengan kata lain, asumsi kedua itu melazimkan pula adanya sistem yang banyak di dalam alam raya ini. Dan setiap sistem itu, mandiri dan terpisah dari yang lain. Padahal alam ini, jelas, hanya memiliki satu sistem. Buktinya adalah adanya hubungan di antara realitas-realitas alam pada satu zaman, yang setiap mereka butuh kepada yang lain. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada hubungan di antara realitas-realitas sebelumnya dengan realitas-realitas yang sedang berlangsung. Demikian juga, antara realitas-realitas yang sedang berlangsung dengan yang berikutnya. Dan setiap realitas yang lalu, merupakan prasyarat bagi wujud yang berikutnya. Dengan cara seperti itu, alam yang terdiri dari bagian-bagian ini, saling berhubungan dan berkait yang diatur oleh satu sistem yang tidak mungkin sebagai akibat dari beberapa sebab pengada.

Adapun asumsi bahwa Pencipta seluruh makhluk adalah Tuhan Yang Esa, sedangkan Tuhan-Tuhan yang lain bertugas mengatur alam, adalah asumsi yang keliru. Karena seluruh wujud dan aktifitas setiap akibat itu, bergantung kepada sebab yang mengadakannya. Artinya, tidak ada celah bagi maujud mandiri apa pun, untuk ikut campur dalam urusan tersebut, selain interaksi antara sesama akibat-akibat dari satu sebab. Dan tentunya, seluruh akibat-akibat tersebut tunduk kepada sebab pengada mereka dan tidak keluar dari wilayah kekuasaan-Nya. Satu pun tidak akan terjadi, kecuali dengan izin-Nya.

Dengan demikian, Tuhan-Tuhan itu -selain Tuhan Pencipta dan Pewujud- bukan Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Karena, makna Tuhan yang sebenarnya adalah Dzat yang dapat memperlakukan segala makhluk-Nya secara mandiri. Sedangkan pada asumsi di atas, Tuhan-Tuhan itu tidak mandiri dalam meng-aktifkan kekuasaan mereka. Bahkan mereka itu adalah serpihan dari rububiyah Pencipta Sejati. Dan akan menjadi aktif dengan kekuatan yang Dia berikan kepada mereka. Tanpa anugerah-Nya, segala aktifitas apa pun tidak akan terwujud.

Dengan demikian, bahwa asumsi adanya Tuhan-Tuhan pengatur alam yang tidak mandiri, tidak menafikan Tauhid Rububiyah (tauhid dalam pengaturan). Sebagaimana suatu penciptaan yang terjadi dengan izin Allah pun tidak menafikan Tauhid Khaliqiyyah-Nya. Di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis, terdapat ungkapan yang menunjukkan ketetapan penciptaan atau pengaturan vertikal (taba’i) dan tidak mandiri pada sebagian hamba-hamba Allah. Sekaitan dengan ihwal Nabi Isa a.s., Allah swt. berfirman:

“Dan ingatlah ketika kamu menciptakan dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniupkan padanya, lalu ciptaan itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku.” (Qs. Al-Maidah: 110)

Di ayat lain Allah Swt. berfirman:

“Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur suatu urusan.” (Qs. An-Nazi’at: 5).

Alhasil, dugaan tentang kemungkinan adanya Tuhan-Tuhan bagi alam ini, muncul dari menyerupakan Allah dengan sebab-sebab material dan sebab-sebab penyiap, sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan itu bisa berbilang bagi satu akibat. Tetapi, kita tidak mungkin dapat menyerupakan sebab pewujud dengan sebab-sebab tersebut. Sebagaimana kita juga tidak mungkin mengasumsikan diwujudkannya suatu akibat oleh sejumlah sebab pewujud dan sejumlah pengatur yang mandiri.

Jadi, untuk menyanggah dugaan tersebut, kita mesti berpikir lebih dalam tentang konsep sebab pengada dan ciri-ciri khasnya, sehingga kita mengetahui kemustahilan berbilangnya sebab bagi satu akibat. Demikian pula, kita harus memperhatikan bahwa saling terkaitnya sesama realitas alam, tampak jelas, bahwa sistem yang saling terpadu di alam semesta ini, tidak mungkin diciptakan oleh banyak Tuhan. Dan tidak mungkin juga tunduk pada pengaturan banyak pengatur yang mandiri.

Dari uraian di atas menjadi jelas pula, bahwa keyakinan terhadap wilayah takwiniyah (kekuasaan cipta) pada sebagian hamba yang saleh, tidak menafikan keimanan terhadap Tauhid. Tetapi yang penting adalah -sehubngan denganwilayah takwiniyah- jangan sampai kita menafsirkan wilayah ini, dengan makna penciptaan atau pengaturan yang mandiri. Sebagaimana keyakinan terhadap wilayah tasyri’iyah (kekuasaan hukum) pada Nabi saw dan para imam maksum as, juga tidak menafikan pengaturan kekuasaan hukum Allah (tasyri’iyah Ilahiyyah). Karena wilayah itu diwujudkan oleh Allah, dengan izin-Nya, dan bersumber dari-Nya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Loading...
Loading...