Salam, semoga bermanfaat. By Udhin Prasetya

Sabtu, 15 Oktober 2011

ZUHUD DAN KEADILAN SOSIAL




muhammad sawUmumnya tentang zuhud itu telah banyak dibicarakan dimana-mana. Baik itu zuhud yang dipraktekkan atau zuhud yang secara teoritis disampaikan. Secara teoritis zuhud itu sama dengan wara’. Zuhud berarti menahan diri, tetapi bedanya dengan wara’, ketika Imam Ali bin Abi Thalib as bertanya kepada rasulullah, “Amalan apa yang paling afdhal di bulan ramadhan.” Kata Rasulullah, “Amalan yang paling utama dibulan ramadhan adalah wara’.” Wara itu menjaga diri (menahan diri), zuhud juga begitu. Zuhud itu sama dengan wara’. Bedanya kalau wara itu melarang kita dari apa yang diharamkan oleh Allah Swt., zuhud justru melarang diri kita dari yang mubah, menahan diri kita dari yang memang dibolehkan Allah Swt. Buat Tuhan tidak ada persoalan apakah kita melakukannya atau tidak. Tetapi kita yang menahan diri untuk melakukannya. Itu yang disebut dengan zuhud secara harfiah, artinya secara bahasa. Sama seperti Imam Ali as. ketika beliau mengatakan, “Yang membuat para imam lebih utama dari para nabi adalah, kepada Nabi Adam diberikan semuanya tetapi yang satu perintah untuk ditahanpun itu dilanggar oleh Nabi Adam, sementara buat aku Allah izinkan berbagai macam kenikmatan dunia tapi aku larang diriku dari menikmatinya.” Beliau melakukan zuhud. Melarang dirinya dari melakukan apa yang dibolehkan Allah Swt. Dan itu kebanyakan berhubungan dengan urusan dunia.
Suatu saat Jalaluddin Rumi bercerita tentang buruk merak yang karena punya bulu yang sangat indah, ia khawatir dikejar oleh pemburu terus menerus. Lalu suatu saat ia cabuti bulu-bulunya yang indah itu. Sahabatnya melihatnya, “Apa yang kamu lakukan.” Kata burung merak itu, “Karena aku tidak bisa tentram ketika aku lewat disuatu tempat karena pemburu itu masih selalu mengintai aku. Jadi lebih baik aku cabuti bulu-buluku ini, kemudian aku selamat dan hatiku jadi lebih tentram.” Kata sahabatnya lagi, “Megapa engkau letakkan ketentramanmu itu pada bulu-bulu yang menghiasi tubuh kamu.” Nah, dihadapkan pada zuhud yang sering dihadapkan pada dunia, lawan zuhud itu biasanya dunia. Dan kadang-kadang sufi yang paling awal itu ditandai dengan kezuhudan mereka untuk menjauhi dunia. Melarang diri mereka sendiri untuk menikmati dunia. Konsep zuhud yang paling awal mungkin sebetulnya terjadi pada zaman Nabi Isa as. ketika al-khawariyyun itu (ketika Nabi Isa as diangkat oleh Allah Swt.) lalu mereka menyepi karena pengikut Nabi Isa dikejar-kejar oleh penguasa waktu itu. Akhirnya mereka menyepi ke gunung-gunung, ke puncak bukit, ke goa-goa, dan disitu hanya beribadah saja kepada Allah Swt. Itu mungkin catatan yang paling awal dalam konsep memisahkan antara zuhud dan dunia. Bahwa orang yang berzuhud itu adalah yang melepaskan keterikatan pada dunia sampai pada bentuk yang seperti itu. Dulu terjadi pada para pengikut Nabi Isa as ketika mereka dikejar-kejar oleh penguasa. Dan belakangan di zaman islam, konsep seperti itu muncul lagi ketika secara politik kaum muslimin terbagi kedalam beberapa kelompok. Pada zaman Imam Ali bin Abi Thalib as ada menjadi pengikut imam Ali, ada yang bergabung dengan muawiyah, ada juga yang memilih untuk berada di tengah-tengah. Salah satu yang ditengah-tengah itu adalah Ibn Umar. Yang dilakukan oleh Ibn Umar, ia beribadah saja di masjid. Beliau tidak ikut perubahan sosial politik pada waktu itu. Tidak ikut Imam Ali as, tidak juga bergabung dengan Muawiyah. Akhirnya para tasawwufpun ada yang mengikuti tarekat Ibn Umar. Itu sebelum ia masuk pada tahap tarekat. Dalam buku ini (Buku Saku Tasawwuf, Haidar Baqir, Pen.) ustad Haidar membagi perjalanan tasawuf itu pada tahap zuhud, lalu ada tahap tasawuf, yang ketiga tasawuf falsafi dan yang keempat tarekat. (Itulah, pen.) Perkembangan-perkembangan tasawuf. Awalnya hanya individu-individu saja yang zuhud diantara mereka. Kemudian murid-muridnya membentuk sebuah lembaga. Institusi yang menisbatkan ajarannya kepada gurunya. Masuklah pada abad ke-6 Hijriah, tasawuf yang sifatnya lebih kepada makrifat Allah Swt. yang disebut tasawuf falsafi dan paling akhir adalah membentuk tarekat.
Pada awal sekali kemunculan tasawuf itu ditandai dengan orang-orang yang bersifat zuhud. Dan zuhud itu adalah (yang dipraktekkan pada waktu itu) memisahkan diri dari dunia. Padahal tidak selamanya zuhud itu seperti itu. Seperti dalam kisah Rumi yang disampaikan tadi, kata kawan burung merak itu, “Kenapa kamu cabuti bulu-bulumu, yang harus kamu lakukan itu adalah meninggalkan keterikatan kamu pada bulu yang indah itu.”
Ada kisah seorang sufi Abu Yazid al-Bustami kalau saya tidak salah, suatu saat ia merasa bahwa menjadi muslim yang sejati, jadi sufi yang sesungguhnya adalah meninggalkan dunia. Dari mana kemudian ia dapat pemahaman bahwa seorang zahid itu harus meninggalkan dunia. Itu karena dalam perjalanan ia ditinggalkan kafilahnya, ia sudah kehilangan bekal. Tiba-tiba ia sampai disuatu tempat dan ia melihat burung yang sudah patah sayapnya. Kemudian ada burung lain yang datang kepada burung yang patah sayapnya tadi dan menjatuhkan makanan yang dia pegang di paruhnya. Dijatuhkan makanan pada burung yang menggelepar-gelepar sekarat mau mati itu, dan burung itu menemukan makanannya. Kata sufi itu, “Kalau Tuhan saja memberikan rezeki pada burung yang ditengah padang pasir patah sayapnya, maka apalagi seorang hamba yang mengkhususkan hidupnya hanya untuk dunia saja.” Jadi dia memilih untuk tidak mendekati dunia. Namun ia bertemu dengan guru sufi yang lainnya, ketika ditanya kenapa ia memilih sufi yang seperti itu. Lalu ia mencerikan kisahnya, ia menemukan burung yang diberi rezeki oleh Allah walaupun ia sudah dicelakai oleh kawan-kawannya. Kata guru sufi itu, “Kenapa kamu memilih untuk menjadi burung yang patah sayapnya. Kenapa kamu tidak memilih burung yang satunya lagi, yang memberikan rezeki Tuhan pada burung yang patah sayapnya tadi.” Jadi pada burung itupun ada dua, yang kita ambil apakah misalnya kita beribadah kepada Tuhan lalu menjadi orang yang acuh pada perkembangan sesama bahkan tidak peduli dengan perkembangan disekitar kita. Hanya kepada Allah Swt. saja. Dan rezeki kita pasti dicapai. Tapi kata guru sufi itu, kenapa kita tidak memilih burung yang kedua, yang memilih untuk memberikan kelebihan rezekinya dan menyalurkannya pada burung-burung yang patah sayapnya.
Mungkin itu dipertentangkan antara konsep zuhud yang murni hanya beribadah kepada Allah Swt dan zuhud yang sesungguhnya. Zuhud yang sesungguhnya itu adalah zuhud yang beribadah kepada Allah Swt dengan berbagai macam cara tanpa melepaskan diri dari dunia. Laisa al-zaahidu an-laa yamliku syaia’, bal yuzaahidu an-laa yamlikuhu syaiu’, kata Imam Ali. (Bukanlah seorang zahid itu adalah orang yang tidak memiliki apapun, tapi seorang zahid itu ialah yang hatinya tidak dimiliki oleh apapun). Bukan berarati kita jadi zahid lantas kita hidup miskin. Orang yang zahid itu adalah orang yang hatinya tidak dimiliki oleh apapun.
Dan cara mengukur apakah kita sudah termasuk golongan orang yang zahid atau tidak, yang pertama adalah: apakah kita punya kecintaan terhadap sesuatu. Seorang yang zahid kecintaan itu kepada Allah Swt, tetapi semua kita itu (hati kita itu) terikat pada sesuatu, kita mencintai sesuatu. Kadang-kadang ada juga kecintaan pada sesuatu itu tidak kita pedulikan. Malah kita tidak punya sesuatu yang kita cintai dengan sungguh-sungguh. Dan saya termasuk orang yang tidak ingin mencintai sesuatu dengan sungguh-sungguh. Kecintaan saya mungkin lebih bersifat sebatas ibadah saja. Kalau saya mencintai isteri saya, mencintai anak saya, mencintai keluarga saya, itu saya takut untuk mencintai mereka dengan sungguh-sungguh. Karena ketika hati kita sudah terikat dengan cinta yang sesungguhnya maka Allah Ta’ala akan menguji kita berdasarkan kecintaan kita itu. Dan itu ujian yang pasti diberikan kepada siapapun, karena orang yang zahid hanya pasti akan mengikatkan kecintaannya itu kepada Allah Swt.
Saya punya kawan (tetangga), ia mendapat mobil baru dan memperlakukan mobil itu dengan baik. Setiap hari ia mencucinya dua kali. Dan setiap ada goresan sedikit saja, hatinya itu tidak tentram. Artinya dia tidak enak kalau melihat mobilnya terkena goresan sedikit saja. Akhirnya dibawa lagi ke dialernya karena masih ada asuransi untuk menutupi goresan itu. Dan saya bilang, “Kamu akan diuji lewat mobil kamu.” Karena dia memperlakukan mobil itu dengan begitu rupa. Dia bilang, “Saya punya mobil ini, saya akan urus baik-baik, dan saya akan perlakukan itu seolah-olah saya akan memakai mobil ini untuk selama-lamanya.” Dan saya bilang, “Kita akan diuji berdasarkan sesuatu yang kita cintai.” Tau-tau dia kasih SMS sama saya bahwa ketika mobilnya itu penuh dengan debu. Anak-anaknya menggambar dimobil itu. Karena menggambarnya diatas debu maka tergoreslah mobilnya itu dengan debu itu. Dibawa lagi mobil itu ke asuransi. Terakhir, mungkin sekitar seminggu yang lalu dia SMS lagi. Persis di depan rumah dia mobil itu kehilangan CD yang sangat mahal yang ia simpan disistu. Dan alat sterio yang ada dimobil itu dibobol oleh maling. Dan saya bilang, “Karena mungkin hati kita lekatkan kepada sesuatu yang kita cintai itu.”
Dan saya takut untuk mencitai sesuatu berlebihan. Mungkin juga tidak begitu berlebihan menurut kita. Tetapi kalau kita punya sesuatu yang kita anggap berharga, sesuatu yang hati kita lekatkan disitu, Allah Ta’ala akan menguji kita disistu. Bapak-bapak dan ibu-ibupun dapat praktekkan. Coba saja kita cintai suatu barang dengan berlebihan, Allah Ta’ala akan menguji kita. Dan yang paling tidak saya inginkan adalah kalau Allah Ta’ala menguji saya lewat orang-orang yang saya cintai. Jadi saya mencintainya antara ingin mencintai yang sesungguhnya sama dengan kekhawatiran saya takut diuji dengan sesuatu yang saya cintai.
Saya itu sering main bola. Dan kalau main bola biasanya cidera dikaki. Ada satu bagian pada kaki saya itu yang mulus. Sama sekali tidak terkena cidera. Saya takjub juga. Dan selama ini tidak saya perhatikan. Setelah saya perhatikan, esok harinya main bola saya cidera kena persis pada bagian (kaki yang tidak cidera, Pen.) tersebut. Seolah-olah Tuhan itu memberikan peringatan kepada saya, mungkin selama ini tidak mensyukuri bagian kaki yang tidak cidera tadi. Makanya agak khawatir kalau kita mendapat rezeki dari Allah Ta’ala, kemudian kita anggap atau kita pusatkan sepenuhnya pada rezeki dari Tuhan itu, Tuhan akan menguji kita. Karena pada saat ketika kita melakukan itu, kita tidak melakukan kezuhudan. Kita tidak menjadi orang yang zahid. Kita sudah melekatkan hati kita pada kepemilikan terhadap sesuatu. Seoranga zahid adalah ia yang hatinya tidak dimiliki oleh apapun. Tapi bukan berarti ia tidak bisa memiliki apapun.
Bab yang kedua tentang Keadilan Sosial yang disuguhkan panitia. Dalam buku Ustad Haidar, ia tertulis disini ialah Zuhud dan Cinta pada Sesama. Bahwa zuhud itu ditandai dengan kecintaan pada sesama. Dalam buku Ustad Haidar ini ia tulis zuhud dalam tiga bagian, zuhud I, zuhud II, zuhud dan kecintaan pada sesama. Pada bagian zuhud yang pertama beliau bercerita tentang konsep seorang zahid yang beribadah kepada Tuhan dan meninggalkan dunia. Pada bagian zuhud yang kedua beliau bercerita tentang para sufi yang justru hidup kaya raya. Tentang sufi-sufi yang kita kenal sekaranag ini, Fariruddin Attar, nama para sufi itu justru diambil dari profesi dia. Attar itu punya farmasi. Pekerjaan dia itu membuat wewangian. Attar itu artinya tukang yang membuat wewangian. Junaid al-Bahgdadi dikenal sebagai al-Qawariri, penjual pecah belah. Lalu al-Hallaj, yang terkenal dengan anaa al-haq-nya itu, mencari nafkah sebagai pemintal kapas, al-khazaz. Ada lagi Sari al-Saqati, penjual rempah-rempah.
Lalu disebutkanlah oleh ustad Haidar sebuah kisah ketika ada seorang sufi punya guru. Lalu si Sufi itu ingin berangkat ke Mursia. Kata gurunya itu, “Aku punya guru di Mursia, sampaikan salamku padanya dan berikanlah padaku nasehat. Tolong sampaikan kepada guru itu untuk memberikan kepadaku nasehat.” Berangkatlah murid itu. Ia cari guru itu yang bernama Syaikhul Akbar. Dan hampir semua orang kenal pada Syaikhul Akbar. Ditunjukkanlah rumahnya. Rumahnya sangat mewah. Semua orang di Tursia kenal sama dia. Agak bingung juga si Sufi itu karena ternyata guru gurunya dia itu adalah orang yang kaya raya. Dan takjublah dia karena gurunya yang dari tempat asal dia itu hidup sangat miskin. Ketika datang ke tempat Syaikhul Akbar itu dia sampaikan tujuan-tujuan dia, dan dia ceritakan salam gurunya, dia juga mengatakan agar Syaikhul Akbar itu memberikan nasehat kepada dia. Lalu kata gurunya itu, “Nasehat aku bagi gurumu itu adalah jangan terlalu memikirkan dunia.” Murid itu tersinggung, karena gurunya (Syaikhul Akbar, Pen.) hidup kaya raya, tapi kepada gurunya yang hidup miskin ia katakan untuk tidak terlalu memikirkan dunia. Ia sampaikan pesan itu pada gurunya yang dikampung dia, dan gurunya itu berkata, “Benar apa yang ia sampaikan. Jangan terlalu memikirkan dunia. Belum tentu orang miskin itu bisa berzuhud.” Karena ia hidup miskin, lalu ia memikirkan dunia. Pada saat yang sama zuhud itupun hilang dari dirinya. Sementara gurunya itu, ia hidup kaya raya, tapi hatinya tidak terikat pada dunia. Jadi yang membedakan seorang zahid yang sesungguhnya dengan zahid yang tidak adalah seorang zahid itu tidak harus meninggalkan dunia, tidak harus tidak berusaha, tidak harus kemudian sampai kaya.
Imam Ali suatu saat pernah mendatangi seorang sahabatnya, A’la bin Ziyad kalau saya tidak salah. Dan rumahnya besar. Kata Imam Ali, “Untuk apa rumah sebesar ini. Kamu tinggal dirumah sebesar ini?” dan A’la bin Ziyad tidak bisa menjawab perkataan Imam Ali. Muka dia merah padam mendengar ucapan Imam Ali. Sebelum dia bisa menyampaikan sesuatu kepada Imam Ali, beliau menambahkan, “Tapi kalau kamu ingin rumah kamu itu tidak hanya besar di dunia, tapi juga besar di akhirat, gunakan rumah kamu itu untuk amal shaleh.” Jadi Imam Ali tidak melarang orang punya rumah yang besar walaupun pada awalnya beliau tanya, untuk apa rumah sebesar ini. Tapi kemudian Imam Ali sendiri menjawab, kalau kamu ingin rumah kamu itu tidak hanya besar di dunia, tapi juga besar di akhirat, gunakan rumah kamu itu untuk amal shaleh. Tidak ada larangan khusus dari para Imam juga.
Tetapi yang disebut zuhud adalah kita memilih diri kita sendiri, menjaga diri kita, menahan diri kita dari yang dibolehkan Allah Ta’ala. Hal itu boleh kita nikmati, tapi kita bikin batasan-batasan sendiri. Misalnya, kenikmatan yang satu itu tidak akan aku nikmati. Ada banyak berbagai kenikmatan dunia yang dibolehkan dalam islam. Tapi kemudian kita membatasi diri kita sendiri dari tidak menikmati kenikmatan-kenikmatan dunia. Itulah yang disebut dengan zuhud. Dan definisinya kemudian kembali kepada diri kita, sangat subjektif. Ketika kita bisa membatasi dari berbagai kenikmatan, tergantung kita sendiri, terserah kita, kenikmatan yang mana yang kita batasi. Kenikmatan yang mana yang kemudian kita tidak mengizinkan diri kita untuk menikmatinya walaupun Allah Ta’ala memberikan izin untuk kita nikmati.
Pada bab zuhud yang ketiga dari ustad Haidar adalah zuhud dan kecintaan pada sesama. Disitu beliau memulai dengan sebuah syair dari Abu bin Azim yang ditulis dalam buku Amatullah Armstrong, yang bukunya diterbitkan Mizan. Amatullah Armstrong itu seorang perempuan muslihah, biarawati Australia yang masuk islam karena dengan puisi. Ketika gurunya menyuruh dia untuk mengapresiasi puisi, ia ketemu puisi Abu bin Azhim itu dan ia sampaikan di depan kelas. Lama setelah itu ia renungkan puisi itu sampai akhirnya ia mempelajari islam. Dan ia memilih masuk islam karena puisi itu.
Ceritanya dalam puisi itu Abu bin Azhim bermimpi. Dalam mimpinya itu dia melihat malaikat datang, dan kata malaikat itu, “Aku bawa nama-nama yang menjadi kekasih Tuhan.” Abu bin Azhim tanya, “Apakah namaku ada diantara nama-nama itu.” Kata malaikat itu, “Tidak, namamu tidak ada.” Lalu kata Abu bin Azhim, “Kalau begitu masukkan aku kedalam orang yang mencintai mereka.” Esok harinya Abu bin Ashim bermimpi lagi malaikat datang, dan malaikat itu bilang kepada Abu bin Ashim, “Nama kamu berada diatas semua nama-nama itu.” Jadi ciri zuhud yang berikutnya adalah kecintaan dia yang besar kepada sesama manusia. Apalagi kepada kekasih Allah Swt. Bukan saja kepada sesama manusia, tapi kepada seluruh alam semesta.
Ketika Junaid al-Baghdadi lewat disuatu tempat, dia melihat bangkai anjing dan ada perasaan jijik terhadap bangkai anjing itu bersama murid-muridnya. Dia lewati bangkai anjing itu dengan perasaan jijik. Lalu dia melangkah menjauhi bangkai anjing itu. Tiba-tiba Junaid al-Baghdadi menyadari kekeliruannya. Dia shalat dua rakaat, dia balik lagi ketempat bangkai anjing itu dan ia mandikan, ia kafani, dan ia kuburkan seperti layaknya jenazah manusia. Lalu murid-muridnya tanya, “Mengapa kau lakukan itu pada bangkai anjing.” Kata Junaid al-Baghdadi, “Karena tadi ketika kita melewati bangkai anjing itu, timbul rasa jijik dalam hatiku. Dan aku merasa berdosan karena aku telah merasa jijik terhadap sesuatu yang telah Allah ciptakan dengan begitu sempurna.” Jadi seorang yang zuhud adalah ia yang melepaskan ketakutan dia, kejijikan dia terhadap segala sesuatu. Kalau timbul dalam hati kita perasaan jijik terhadap apapun, itu ciri bahwa kita tidak bisa zuhud. Saya juga sampai sekarang tidak bisa untuk melawan perasaan tidak jijik itu. Ya memang harus latihan sih. Dan mungkin masing-masing kita mempunyai binatang yang kita jijik terhadapnya. Dan Junaid itu merasa jijik terhadap bangkai yang sudah tidak bernyawa, yang sudah tidak punya apa-apa. Tapi ia perlakukan itu (dengan baik, pen.), dan ia bilang pada muridnya, aku kafani dia, aku shalatkan dia karena itu kaffaratku terhadap rasa jijik yang keluar dari hatiku.
Apalagi Abu Dzar dan siapa sahabat nabi yang satunya lagi, ketika ia menjauh karena ada orang miskin seperti ada rasa jijik terhadap orang yang miskin itu. Merasa tidak satu level-lah, Rasulullah menegur dia. Lalu sahabat itu berkata pada nabi, “Ya Allah sebagai balasan atas satu perasaan sesaat saja yang muncul dari diriku karena tidak merasa cocok dengan sahabat nabi yang miskin itu, aku serahkan setengah hartaku kepada dia.” Itu kiffarat yang dia berikan karena dia merasa menjauhi seseorang yang karena status sosial, mungkin karena miskin, lalu ia merasa renggang. Itu yang sifatnya lebih halus lagi.
Jadi ketika sorang zahid itu menerapkan kecintaan dia kepada alam semesta, kita mungkin tidak mampu menjadi para kekasih Tuhan. Tapi lebih berat lagi kita itu menjadi orang yang mencintai para kekasih Tuhan. Kerana ketika kita sampai pada tahap itu, maka kecintaan kita itu adalah kecintaan pada seluruh alam semesta. Dan disitu juga ada pesan moral dari puasa sebagai latihan ketaqwaan kita. Diantara ciri orang yang bertaqwa adalah yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila min qablik, beriman atas apa yang diturunkan atas kamu dan beriman kepada apa-apa yang diturunkan kepada orang-orang sebelum kamu. Ciri orang yang bertaqwa adalah toleran. Kalau kita sudah sampai pada tingkat ketaqwaan tertentu, kita itu akan sangat toleran terhadap perkembangan apapun, terhadap perbedaan apapun, terhadap agama apapun, bahkan terhadap alam semesta.
Kita tahu, kita masih merendahkan agama lain. Kalau kita masih merasa surga hanya milik kita saja, kita masih belum sampai pada derajat taqwa, apalagi zuhud yang sesungguhnya. Karena kita tidak bisa toleran terhadap sesama makhluk Allah Swt. Dan itu adalah pesan Gus Dur yang ingin saya ulangi lagi karena itu menjawab teka-teki saya selama ini. Ketika Gus Dur ditanya tentang pluralisme sewaktu di Sabuga, lalu dia menjawab, “Saya kan hanya mengamalkan al-Qur’an. Kita itu tidak ngaji al-Qur’an dengan benar. Coba kaji lagi al-Qur’an.” Kita sudah diciptakan berbeda kok. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujaraat: 13), dan lain sebagai nya.
Lalu kata Gus Dur itu, ada ayat walan tardha ankal yahuda wan nashaaraa hatta tattabia’ millatahum. Kalau saya ngasih pengajian, saya sering ditanya ayat itu dan saya tidak mampu menjawabnya. Tapi ketika dengar dari Gus Dur, itu membuka sesuatu yang selama ini membeku dalam pikiran saya. Dan tidaklah orang Yahudi dan Nashrani itu ridha sampai kamu ikuti agama mereka. Kata Gus Dur, “Jelaslah orang yahudi dan nashrani itu tidak akan ridha sama kita karena orang islam itu datang dengan agama baru. Kalau seseorang datang dengan agama baru, dia tidak akan rela karena yang dia miliki kemudian diganti dengan yang baru. Itu sifat orang yahudi dan nashrani. Justru, disitu ada mafhum mukhalafah, orang islam jangan seperti orang yahudi dan nashrani. Justru kita harus rela kalau orang lain berbeda dengan kita. Kita harus rela kalau orang lain tidak ikut ajaran kita. Kita harus rela kalau orang lain tidak satu paham dengan kita. Dan kalau kita tidak rela karena orang itu tidak sepaham dengan kita, (berarti) kita masih yahudi dan nashrani.
Jadi ciri orang yang bertaqwa adalah bersifat toleran dan itu buah dari kezuhudan. Kalau orang sudah zuhud, terbuka hatinya untuk mencintai siapapun. Termasuk orang yang ia dibenci sekalipun. Orang melaknat kita, mengutuk kita, tapi harus kita cinta. Orang memusuhi kita, membenci kita, menyebarkan aib kita, tapi kita masih mencintai dia, masih mendoakan dia. Seperti al-Hallaj ketika orang-orang melaknat dia, mencacimaki dia, didoakan oleh al-Hallaj orang-orang itu. Dan al-Hallaj mengatakan, “Mereka lakukan itu karena kecintaan mereka kepada agama mereka. Mereka tidak tahu apa yang aku alami.” Didoakan orang-orang yang melaknat dia, mencacimaki dia, bahkan akhirnya mengeksekusi dia. Itu orang yang sudah sampai pada tingkat zuhud yang sangat tinggi. Ketika ketika kepada orang yang memusuhi dia sekalipun, dia cintai. Begitu juga Rasulullah Saw dan para Imam as.
Sampai hari ini didalam hati saya itu ada pertanyaan ketika Imam Husain as itu dipenggal oleh Dzimir laknatullah alaihi, apa ada dalam hati Imam Husain itu kecintaan kepada Dzimir? Orang yang sudah mendhalimi beliau, mendhalimi keluarganya, bahkan akhirnya mengeksekusi Imam Husain as ( Cucu Rasulullah Saw). Dulu saya pernah diskusi agak rame berkenaan dengan apakah para Imam itu tahu siapa yang akan membunuh dia. Saya bilang, “Menurut saya, tahu.” Apakah Rasulullah tahu beliau akan syahid, apakah Imam Ali tahu beliau akan syahid, apakah Imam Husain tahu beliau akan syahid. Saya jawab, iya. Kalau begitu mereka bunuh diri, karena mereka melangkah pada sesuatu yang sudah mereka ketahui. Imam Husain tahu kalau pada akhirnya beliau akan syahid, tapi tetap beliau berangkat. Dan ketika Imam Ali itu membangunkan Ibn Muljam untuk shalat subuh yang sudah menunggu dengan belati dibalik jubah dia untuk membunuh Imam Ali, ucapan Imam Ali kan, “Bangunlah kamu. Aku melihat ada niat buruk dikedua matamu.” Imam Ali juga sudah tahu (kalau beliau akan dibunuh, pen.), tapi tetap beliau shalat hingga kemudian dipenggal dari belakang. Tetap Imam Ali itu mengajak sampai detik terakhir, karena kecintaan.
Seorang yang sudah sampai tingkat kezahidan yang sangat tinggi, sampai detik terakhirpun ia tetap menunjukkan kecintaannya bahkan kepada orang yang hendak membunuh dia. Jadi kepada Abdurrahman ibn Muljam juga masih diajak amar makruf nahi mungkar, diajak shalat subuh oleh Imam Ali. Dan walaupun Imam Ali tahu ada niat buruk dikedua mata Abdurrahman ibn Muljam itu.
Imam Husain juga begitu, dia berikan peluang, ajaibnya. Dalam kisah asyura itu kan, terlepas benar tidaknya sejarah ini, tapi ketika Imam Husain hendak dipenggal dari depan, pedang itu tidak bisa melukai Imam Husain. Dan kata Imam Husain, “Kamu tidak bisa melukai aku dari arah itu, karena disitulah dulu nabi sering mencium aku.” Imam Husain kasih isyarat kepada pembunuhnya itu. Kemudian dibalikkanlah tubuh Imam Husain itu, jadi Imam Husain telungkup ke arah bumi, lalu kemudian dipenggal dari belakang. Nah, bayangkan orang sampai detik terakhirpun diberi kesempatan untuk bertaubat. Kepada ibn Muljam juga diberi kesempatan, walaupun para Imam itu tahu apa yang akan terjadi, itu tidak menafikan kebebasan berkehendak yang ada pada masing-masing individu itu. Tidak menafikan kebebasan dia untuk memilih, sampai detik yang terakhir.
Ibn Muljam itu sampai detik terakhir dia punya pilihan. Sampai Imam Ali mulai ruku’, dia punya pilihan apakah dia menebas Imam Ali atau tidak. Begitu juga Dzimir, dia punya pilihan sampai detik terakhir ketika pedang dia sedang tidak mampu melukai Imam Husain dari arah depan, masih ada pilihan pada dia bahkan bertaubat pada saat itu. Tapi ketika hati seseorang itu sudah mengeras dari pintu taubat, maka terjadilah apa yang sudah terjadi. Kebebasan berkehendak tidak dinafikan, walaupun para Imam sudah tahu ilmunya. Dan itu karena kecintaan mereka bahkan kepada orang yang memusuhi mereka. Dan kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada Allah Ta’ala, kemudian kepada para kekasih Allah Swt, setelah itu adalah kepada seluruh kecintaan Allah Swt. Jadi zuhud itu ditandai dengan ketidakterikatan hati kita pada dunia walaupun kita boleh mempunyai dunia itu, asal hati tidak terikat kedalamnya.
Lalu kepada apa hati itu kita ikatkan? Hati kita itu kita ikatkan dalam perwujudan cinta kita pada sesama. Sesama manusia dan kepada alam semesta. Kalau kepada bangkai yang jijik saja Junaid al-Baghdadi bisa menunjukkan kecintaan dia, maka apalgi kepada orang, kepada makhluk, kepada hamba Allah Ta’ala yang seumur hidupnya berada dijalan Allah Swt. Kepada para Imam as., kepada para nabi dan para rasul itu kecintaan kita harus lebih dari semuanya. Karena itu dalam al-Qur’an ada ayat bahwa Allah dan nabi itu lebih berhak untuk kalian cintai.
Jadi seorang zahid itu adalah orang yang bukan saja bekerja keras, tapi kerja keras dia itu ia tunjukkan untuk menyebarkan kecintaan kepada sesama. Dan menurut saya, itu tidak menafikan orang untuk ikut serta dalam perubahan sosial, perubahan politik yang ada di tengah-tengah masyarakatnya. Hampir semua revolusioner dalam sejarah islam, juga ia adalah seorang sufi. Sudan itu bisa memimpin melawan penjajah dari Inggris dan Prancis, padahal dibelakangnya ada seorang sufi dari tarekat Sanusiyah, kalau saya tidak salah. Sampai sekarang itu baju tradisional Sudan yang putih, berbeda dengan baju arab yang lainnya, itu baju tarekat yang kemudian jadi baju nasional karena pemimpinnya mengalahkan penjajah waktu itu dan dicontoh oleh rakyatnya. Itu baju tarekat seorang sufi yang bisa mengalahkan penjajah waktu itu.
Imam Khomeini juga adalah seorang sufi (zahid) yang sangat agung menurut saya, beliau juga pemimpin revolusi. Malah berperang sekian tahun lamanya. Tidak menafikan diri dari perubahan-perubahan sosial, tapi tidak mengikatkan diri pada dunia sedikitpun. Imam Khomeini sampai akhir hayatnya tidak mempunyai apapun kecuali baju. Itupun hanya beberapa pasang saja. Di Indonesia juga kita kenal ada Imam Bonjol, ada Pangeran Diponegoro.
Yang terkhir, saya itu selalu terngiang ucapan ustad Jalal ketika mulud-an tahun ini di depan Madrasah as-Sajjadiyah. Kalau Nabi Saw itu datang diutus Allah Ta’ala dan yang beliau sampaikan adalah apa yang selama ini kita sampaikan dalam pengajian-pengajian itu. Kalau nabi datang kepada kita dan menyampaikan bahwa kita itu harus memelihara hati kita supaya tidak hasud, tidak dengki, dan kita harus sabar karena BBM dinaikkan misalnya. Kalau nabi datang seperti itu, orang-orang kafirpun tidak akan ada yang protes satupun. Tidak akan ada yang memerangi nabi. Tidak akan ada yang akan melempari sampah kepada Rasulullah. Kalau ajakannya itu hanya ajakan yang sifatnya seperti itu. Tidak ada yang akan memerangi nabi kalau ajakan nabi juga disisi lain hanya untuk beribadah saja, hanya untuk dzikir saja kepada Allah Ta’ala, dzikir sama-sama (berjemaah). Orang Quraisy juga bahkan akan ikutan dzikir dengan nabi itu. Tapi nabi datang dengan protesan bahwa dalam islam tidak ada beda antara orang kaya dan orang miskin, tidak ada yang disebut dengan bangsawan. Ukuran kemuliaan itu hanya ketaqwaan. Seseorang tidak harus menghamba kepada orang lain. Seseorang tidak harus menjadi budak orang lain. Orang kaya harus menyerahkan sebagian hartanya kepada orang miskin. Kemapanan orang-orang Quraisy waktu itu diusik oleh Rasulullah. Dan karena itulah mereka memilih untuk memerangi Rasulullah Saw.
Tapi kalau yang didakwahkan adalah zuhud versi yang pertama, tidak akan ada yang akan memerangi nabi. Justru karena dia datang dengan konsep zuhud bahwa manusia itu tidak harus memberatkan hatinya pada siapapun dan dia harus memerdekakan hati dia dari perbudakan kepada apapun, juga memerdekakan orang lain dari perbudakan kepada yang lainnya. Termasuk kepada dunia, kepada nikmat-nikmat yang datang dari Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Loading...
Loading...