Salam, semoga bermanfaat. By Udhin Prasetya

Jumat, 01 April 2011

Luwu: Dimensi Sejarah, Budaya dan Kepercayaan

buku luwu 263x300 Luwu: Dimensi Sejarah, Budaya dan Kepercayaan

Seperti judulnya, M. Akil AS membahas Luwu dalam tiga dimensi besar, yakni sejarah, budaya dan kepercayaan. Menurutnya, Luwu telah melewati tiga fase kepercayaan yang semakin modern. Tiga fase tersebut adalah kepercayaan dewata sewwae, budaya spiritual dan Islam. Kepercayaan kepada dewata sewwae menurut Akil, didefinisikan sebagai wujud penyerahan diri terhadap Tuhan dengan melakukan prosesi ritual terhadap kekuatan gaib yang mendiami alam raya sebagai bagian dari kekuasaan dewata sewwae (dewata langie, mallinoe dan uwwae). Di Luwu sendiri, kepercayaan terhadap dewata sewwae dewasa ini telah nyaris tak ditemui lagi. Lain halnya dengan budaya spiritual yang ada di Luwu pada masa Dewaraja, yang saat itu sangat maju. Budaya spiritual ini merupakan sebuah fenomena kekeliruan masyarakat yang terjebak dari kurangnya pemahaman asal-usul aliran yang mempengaruhinya, apakah dari animisme-Hindu-Budha-ataukah dari tradisi Islam. Fenomen budaya spiritual ini disebut sebagi ‘tareka’. Hingga Islam datang sekitar 1603 M di Luwu, budaya spritual semacam tersebut masih dimaklumi. Kehadiran Islam di Kerajaan Luwu menunjukkan adanya metode dakwah yang moderat dengan kepercayaan lama. Hal tersebut menurut Akil dapat dilihat dari pola pengembangan lingkungan kota Ware (Palopo) yang menunjukkan ciri-ciri kota Islam di timur tengah dengan adanya masjid, istana dan pasar. Serta dengan adanya pohon beringin sebagai simbol pengaruh mistik Islam sebagaimana yang berkembang di nusantara kala itu. Namun, apapun itu tulis Akil, masyarakat Luwu kelihatannya lebih cenderung ke arah pemurnian ajaran Islam, lebih-lebih setelah pemberontakan Kahar Muzakkar lewat DI/TII-nya pada tahun 1950-1965.
Dalam dimensi sejarah, buku ini membagi Luwu dalam 13 fase sejarah yang meliputi dinasti-dinasti kerajaan Luwu dan perubahan-perubahan era yang dialami oleh Luwu. Fase pertama diawali dengan eksistensi Batara Guru. Setelah itu, narasi mengenai Batara Lattu beserta Sawerigading juga dapat dibaca di buku ini. Sebagaimana informasi dalam I La Galigo bahwa sejarah dinasti Luwu pasca Batara Guru-Batara Lattu mengalami kekosongan selama kurang lebih 300 tahun, setelah Sawerigading mengembara hingga ke Cina. Pada masa tersebutlah yang dikenal dengan situasi kacau balau (sianre bale) di Luwu hingga masuknya era kebangkitan pada masa Simpurusiang. Fase berikutnya adalah era Anakaji hingga Tompanange. Setelah era Anakaji-Tompanange yang gemilang, oleh Akil disebutkan Luwu masuk dalam era munculnya hegemoni. Hal tersebut disebabkan karena adanya perkembangan yang pesat pula di kerajaan-kerajaan luar Luwu (Bone, Gowa dan Wajo). Kemudian setelah adanya peperangan pada era tersebut di atas, maka lahirlah era transisi antara tahun 1541-1587. Pada era ini, benih-benih demokratisasi di Luwu lahir yang dimotori oleh Etenrirawe dan Patunru To Ciung. karena semakin terbukanya Luwu dengan demokrasi-nya tersebut, maka era ini disusul dengan era masuknya Islam. Namun, seperti yang terjadi pada periode sebelumnya, Luwu kemudian masuk pada era hegemoni di Sulawesi Selatan dan disusul era setelah Settiaraja. Setelah itu, dalam buku ini kita pun akan dibawa masuk pada era perlawanan terhadap penjajah yang akan mengisahkan heroisme Andi Tadda dan kawan-kawannya. Pasca era tersebut, Luwu masuk dalam revolusi kemerdekaan, yang salahsatu peristiwa penting mengikutinya adalah Masamba Affair.
Salahsatu keunggulan buku ini adalah adanya upaya pemenuhan standar kaidah keilmuan yang lebih tepat. Sebagai contoh, sebagaimana yang diyakini oleh Akil, periodesasi Batara Guru sebagai masa prasejarah adalah simpangsiur oleh para pakar, sehingga Akil mengambil rujukan tafsiran Sarita Pawiloy yang lebih ilmiah. Selain itu, keunggulan buku ini dibanding literatur sejarah Luwu yang lain karena mampu menuliskan tahun-tahun periodesasi yang lebih jelas. Sebagaimana penulisan-penulisan sejarah-budaya lain yang cenderung terperangkap dalam subyektifitas penulis, sebagai seorang bugis yang lahir di Bone—bukan Luwu asli, saya pikir Akil mampu lebih objektif melihat Luwu dari kacamatanya sendiri. Hal tersebut dibuktikannya dengan tetap menuliskan referensi-referensi ilmiah yang dirujuknya untuk mendeskripsikan narasi-narasinya.
Luwu, sebagai sebuah kerajaan tua beserta kisah-kisah sejarahnya sebenarnya dapatlah diurai lebih dari sekadar 78 halaman + vii sebagaimana buku terbitan Pustaka Refleksi ini. Kekurangan referensi yang hanya 7 buah seperti terdapat pada daftar pustaka buku ini, mungkin bisa jadi faktor yang mempengaruhi sedikitnya informasi yang dapat digali dari sejarah-budaya Luwu yang maha kaya tersebut. Sebenarnya, periodesasi Luwu bukanlah berakhir pada peristiwa Masamba Affair, namun masih berlanjut ketika Kerajaan Luwu di(me)lebur dalam kepemerintahan formal NKRI. Saya pikir, periode tersebut sangatlah ’seksi’ untuk diangkat, musabab belum adanya tulisan yang secara serius membahas periode Luwu tersebut — hingga pemecahan Kabupaten Luwu menjadi 4 daerah otonom.
Selain itu, kekurangan lain dari buku yang tak memiliki Kata Pengantar dari penulis ini, terdapat pada Penutup yang tak hadir pada bagian akhir (selayaknya pada buku-buku lain yang memiliki Pendahuluan). Namun, untuk cetakan pertama yang saya miliki ini (tahun 2008), saya pikir tak sedikit pula informasi baru yang dapat diketahui tentang Luwu. Oleh karena itu, untuk mengurangi dahaga keingintahuan kita tentang Luwu, saya sarankan anda membaca buku yang menarik ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Loading...
Loading...